Ngangsu Kaweruh Bareng Sahabat Pena Nusantara
Berawal dari pertemuan di Trenggalek saat acara pelatihan PKBM wilayah Jatim. Saya dipertemukan langsung untuk pertama kalinya dengan penulis kelahiran asal Tulungangung. Yaitu bapak Ngainun Naim. Tepatnya karena saat itu saya memperoleh kesempatan menemani bapak Muhsin Kalida yang diutus untuk membuka acara mewakili Kemendikbud di Jatim (Blitar, Tulungagung, Trenggalek).
Setelah selesai acara di Trenggalek saya dipanggil oleh bapak Muhsin untuk bergabung, duduk berbincang dengan beliau. Merasa ragu-ragu sambil meringis sendiri saya memilih duduk di seberang sofa sambil tersenyum pada Pak Ngainun. Belum mempunyai keberanian mendekat. Intinya naluri wanitaku saat itu keluar. Alias malu. Itulah sejarah pertama kalinya saya mendapat kesempatan bertemu langsung dengan beliau. Selama itu saya hanya mengikuti dan membaca status-status beliau di sosial media (fb dan blogger).
Tulisan-tulisan beliau selama ini banyak membuat saya berfikir berkali-kali. Khususnya panggilan untuk menulis. Bisa dikatakan buku The Power of Reading karya Ngainun Naim adalah salah satu buku yang memberikan kekuatan besar untuk saya rajin membaca, membeli buku, pergi ke perpus, dan diskusi (ikut anggota ataupun jadi pemantik). Intinya harus produktif. Sungguh buku yang inspiratif, mudah dipahami, tetapi tetap detail.
Hingga hari ini tepatnya di Wisma Sargede hari Minggu, 10 April 2016 silaturahmiku dengan beliau terulang kembali. Pasalnya pagi tadi, pukul 7.30 beliau memposting sebuah status yang menerangkan keberadaan beliau di Yogyakarta mengisi sebuah acara pelatihan menulis SPN (Sahabat Pena Nusantara). Saat itu aku baru membuka media sosial sekitar pukul 9.00. Intinya beliau mengajak teman-teman Yogya untuk merapat mengikuti pelatihan “Belajar Menulis Dengan Menulis”.
Bagaimana bisa aku membiarkan diriku tidak menjumpai beliau? yang ilmunya baru aku serap 10 % saja di Trenggalek? Pasalnya beliau dulu hanya menyampaikan materi tidak lebih dari 18 menit. Mana boleh aku membiarkan diriku menikmati ilmu yang setengah-tengah? apalagi melewatkan waktu berharga ngangsu kaweruh kembali tentang ilmu-ilmu beliau yang dulu sempat tertunda?
Akhirnya ku kumpulkan niat dan kuputuskan harus hadir.
Sampai di Wisma pukul 10.30. Acara telah dimulai. Saya disambut oleh M. Husnaini di depan pintu dengan hangat. Kemudian beliau dengan santun mempersilahkanku duduk dan bergabung diantara para anggota mengikuti jalannya diskusi yang interaktif.
Rupanya bukan hanya Dr. Ngainun Naim yang menjadi pemateri hari ini, tetapi para master penulis hebat SPN (Sahabat Pena Nusantara) lain dihadirkan menjadi narasumber. Seperti Bapak Much. Khoiri, M. Husnaini, Hernowo, dan Prof. M Chirzsin.
Yang paling mengesankan hari ini saya duduk dan menghabiskan makan siang sambil diskusi kecil dengan bapak Ngainun Naim, Moch Khoiri beserta istri dan putrinya. Ditengah-tengah makan siang tadi alhamdulillah saya memperoleh sumbangan cipratan ide cemerlang dari para master penulis (Bapak Moch Khoiri) tentang judul buku “Balinesia” sebagai kekayaan BKI.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar