Jumat, 16 September 2016

Efek Barnum (Efek Forer)



Catatan kali ini singkat, lahir berdasarkan pengalaman bersama adik-adik (pesdik)  memberikan pemahaman tentang efek barnum dan hubungannya dengan ramalan. Pasalnya selama hampir sebulan saya berburu pengalaman dunia pendidikan di salah satu Madrasah Rintisan Unggulan (RMU) di Yogyakarta. Saya kerap beberapa kali memergoki siswa asyik dan nampak hobbi membaca ramalan  di salah satu majalah mingguan langganan madrasah tersebut. Dan benar yang saya khawatirkan mereka memang percaya dengan ramalan-ramalan tersebut. Yang barang tentu hal-hal (semacam ramalan) itu bila terus di percaya oleh anak-anak, akan menumbuhkan sikap anak yang mudah pasrah dan terlalu mudah percaya dengan apa yang belum tentu terjadi.

Jangankan anak, sebagain orang dewasapun pernah kita jumpai. Akhir-akhir ini misalnya kita menjumpai ramalan-ramalan yang menjamur di sosial media (terutama facebook dan twitter). Entah itu sebuah ramalan berdasarkan zodiak, golongan darah, inisial nama, foto profil, bentuk tubuh, warna favorit dll. Semoga saja tidak ada yang aneh-aneh sampai meramal berdasarkan bau keringat.

Sebelum percaya mentah-mentah tentang apa saja yang diramalkan, ada baiknya kita mencari tahu dan memperbanyak dialog dengan ahli konseling dan psikologi. Hal yang menarik dibahas kali ini ialah efek barnum. Mungkin bagi kalangan akademisi (konselor dan psikolog) yang bergelut dalam keilmuan tersebut lumrah tentang menggunaan efek barnum ini.

Sebenarnya apa itu efek Barnum? Jadi begini, dalam dunia psikologi, Efek Barnum atau dikenal juga dengan nama Efek Forer merupakan teori yang berdasar pada observasi Phineas Taylor Barnum bahwa semua manusia memiliki beberapa kesamaan, yang kemudian dibuktikan melalui demonstrasi psikolog Amerika, Bertram R. Forer.

Efek Barnum sendiri merupakan sebuah manipulasi psikologis dimana variabel-variabel yang sebenarnya berlaku secara umum pada setiap orang dimanipulasi dalam cara agar kondisi tersebut terlihat seolah-olah berlaku khusus untuk orang tersebut secara pribadi.

Singkatnya, Efek Barnum adalah kecenderungan dimana orang-orang mengatakan suatu ramalan kepribadian mereka tepat, yang pada kenyataannya kepribadian tersebut tidaklah spesifik dan dapat diterapkan ke semua orang sehingga kata-katanya dirangkai sedemikian rupa sehingga terkesan khusus pada suatu golongan tertentu. Jadi misalnya suatu golongan tertentu merasa suatu ramalan tepat dan sangan mencerminkan sosoknya, namun nyatanya itu adalah kondisi umum dan dapat diterapkan di semua golongan. Contohnya begini,
#Libra Asmara : Untuk mempertahankan pasangan anda, cobalah lakukan komunikasi dengan frekuensi teratur dan sering”

Tunggu dulu? Pasti yang merasa zodiaknya Libra dalam hati akan berkata “Oh iya, bener banget. Aku harus ajak si dia komunikasi yang lebih sering”. Padahal, secara umum apapun zodiakmu, pasti memang seperti itu caranya mempertahankan hubungan. Contoh lain.

“Golongan darah O : anda adalah pribadi yang unik. Saat anda sedang berkumpul bersama dengan teman-teman atau keluarga anda dan tertawa bisa jadi dalam hati anda merasa sendiri. Terkadang anda berpikir bagaimana caranya agar dapat disukai dengan orang-orang di sekitar anda”.

Bagaimana? Jika bunyinya demikian, yang bergolongan darah O bisa jadi merasa ramalan tersebut cocok banget buat aku. Begitulah kira-kira contoh efek barnum.
Kembali ke sejarah awal bahwa efek barnum ini pernah diteliti oleh Prof. Forer pada tahun 1948. Awalnya Prof. Forer membagi 39 amplop tertutup pada 39 mahasiswanya, isinya tentang hasil tes kepribadian yang telah mereka lakukan seminggu sebelumnya. Tiap-tiap amplop semua isinya sama. Demontrasi isinya kurang lebih seperti ini :

“ Anda merasa perlu untuk disukai dan dikagumi orang lain, tapi pada saat yang sama anda juga cenderung kritis terhadap diri sendiri. Anda mempunyai kapasitas besar terpendam yang sebenarnya bisa anda kerahkan demi kesuksesan anda.Meski anda memiliki sisi lemah dalam kepribadian, tapi anda biasanya berhasil untuk mengkompensasinya. Dari luar anda terlihat sebagai seorang berdisiplin dan percaya diri, namun di dalam anda adalah seorang yang was-was dan tidak percayadiri. Terkadang anda memiliki keraguan serius apakah anda sudah membuat keputusan atau sudah betindak benar atau tidak. Dalam kapasitas tertentu anda lebih memilih sesuatu yang berbeda dan merasa gusar dengan kekangan dan pembatasan. Anda merasa bangga menjadi seorang pemikir independen dan tidak pernah menerima statemen orang lain tanpa alas an memuaskan. Anda juga menilai tidak bijaksana jika terlalu berterus-terang dalam mengungkapkan diri terhadap orang lain. Terkadang anda adalah seorang agresif, ramah dan sosial, ada pula kalanya tertutup, waspada dan pendiam. Terkadang apa yang anda inginkan tidak begitu realistis. Merasa aman dan nyaman  adalah sebuah tujuan utama anda”.

Dan apa yang terjadi? Setelah pernyataan itu dibagikan, hampir seluruh mahasiswanya mengaku hasil tes mencerminkan kepribadian mereka. Lalu Forer melakukan eksperimen lagi menggunakan orang yang lebih banyak, dan hasilnya sama. Banyak yang mengaku hasil tesnya mencerminkan kepribadian mereka.

Setelah memaparkan tentang penjelasan efek barnum ini apakah anda masih percaya pada ramalan-ramalan yang berada di majalah maupun sosial media? Jawabannya kembali kepada masing-masing individu. Jangan jadikan itu sebagai patokan dasar untuk menilai kepribadian secara umum. Ingat, anda harus mengetahui bahwa hanya diri Anda sendiri yang mengetahui diri Anda dan setiap manusia itu unik.

Tentu saja jika anda terlalu percaya pada ramalan yang terjadi pada masa depan nanti, maka anda pasti akan pasrah saja dengan keadaan dan tak mau berusaha karena sudah tau apa yang terjadi di masa depan. Ingat, ingat, ingat masa depan itu hanya Allah yang tahu.  Dan yang bisa menentukan masa depan kita adalah diri kita sendiri.