Belajar Menulis Dengan Tugas Menulis Bersama Sahabat Pena Nusantara
Kekuatan Catatan [ the power of notes ]
Oleh : Dewi Purwati
Belajar menulis dengan tugas latihan menulis adalah salah satu cara pelatihan menulis yang aplikatif efektif dan kolektif. Pasalnya anggota wajib menulis dan menyetor artikel tiap bulan. Sehingga saya harus memnjembatani diri mencari alternatif solutif agar terus mampu menyetor tugas menulis, dengan cara membuat catatan.
Hargai sebuah proses. Tulisan ini bukanlah tentang seberapa bisa menulis. Tulisan ini bukan pula tentang keberhasilan menulis yang idealis karena tulisan ini masih minimalis. Jauh dari kata baik apalagi menarik. Yang saya sadari saya menangis, di zaman yang dilematis semua orang ingin serba praktis. Ironis, plagiarism mewabah. Merambah generasi atas bawah. Mana boleh generasi muda membaca tanpa bisa menulis? Mana boleh pula menulis tanpa boleh membaca? Tragis, miris, ingin menangis.
Bagi saya, tulisan ini bukan untuk membuat orang tertarik. Tapi usaha mau menjadi lebih baik. Bukan tulisan yang ingin dipuji, apalagi dihargai. Ini lebih dari sekedar sebuah usaha membangun kesadaran jiwa. Melejitkan potensi yang lama tak berdaya guna. Mengorek jiwa yang luput tak terjamah. Mencari sebuah epifani diri, dari kegandrungan menulis dan membaca.
Sejak lama saya suka aktivitas menulis dan membaca. Terhitung sejak duduk dibangku Sekolah Dasar kelas tiga. Saat awal pertama kalinya saya bisa membaca. Untuk kali pertama saya mengeja buku-buku dengan benar dan lancar. Saya menenggelamkan diri bersama dunia baru, menjadi kutu buku bersama teman baru yaitu buku. Buku-buku itu adalah buku cerita bobo dan putri nirwana.
Majalah bobo th. 2000
Majalah Bobo salah satu bacaan unggulanku. Selain membaca juga berlatih berimajinasi bermain peran sendiri, ketawa haha hihi mengarang sambil berkhayal tentang tokoh yang ada didalam buku cerita. Ku hadirkan mereka dalam dunia saya. Saat tidak menyukai akhir alur ceritanya, saya rebah lalu saya rubah naskah.. Saya tulis ulang cerita itu dibuku lain. Saya ubah naskah sesuai sketsa saya. Sesuai versi khalayan saya. Jika megingat dulu itu, benar-benar lucu dan lugu. Saya berbakat pinter menjadi skrip writer sampai ceritanya jadi berputar-putar.
Membaca itu akan memuncullkan daya imajinasi. Iya, daya imajinasi akan tercipta sebagai upaya menuangkan kembali/merekonstruksi apa-apa yang diterima otak dengan kata-kata. Luar biasa. Kreativitas dan aktivitas yang sering muncul itu seperti mengarang, otak dapat leluasa dan bebas menciptakan kata yang bermakna.
Catatan adalah sebuah memo pengingat peristiwa. Peristiwa istimewa menaburkan ketentraman jiwa dan sumber bahagia. Peristiwa duka menawarkan pelajaran berharga. Istimewa ataupun duka samalah artinya sebuah peristiwa. Terlalu sayang bila hanya dikenang. Terlalu murah jika hanya disimpan dikening tanpa dituang. Catatan, adalah jendela anda mendekatkan diri pada aktivitas tulis dan baca.
Seperti yang terjadi, pada istri orang nomer satu di Paramaddina, Ibu omi gemar menulis kerena terbiasa membuat catatan. Catatan itu sederhana namun kaya makna. Kisah nyata tanpa rekayasa. Bukan motif apalagi fiktif belaka. Ini kisah hidup yang menghidupkan. Meski hanya berasal dari serpihan, catatan catatan itu kini menjadi lembaran.
Judul Buku
Hidupku Bersama Cak Nur “Catatan Omi Komaria-Madjid”
Penulis
Omi Komaria Madjid/Istri Nurcholish Madjid (Rektor Paramadina)
Penerbit
Nucholish Madjid Sosiety
Tahun
2015
Resensi
Membaca buku yang ditulis melalui catatan-catatan karya istri Rektor Paramadina ini amatlah menggugah jiwa khususnya dalam pengabadikan pejalanan yang pernah dilewati semasa hidup dengan orang-orang yang pernah ada dalam hidup. Isi buku tersebut benar-benar renyah seakan siapapun yang membaca sedang hadir menyaksikan kisah nyata di dunia cak nur dan bu omi. Rasanya kali ini saya sedang menyantap jagung manis yang benar-benar bergizi bagi peredaran otak untuk memunculkan ide dan gagasan dalam menulis catatan-catatan kehidupan.
Isi buku karya ibu Omi ini tergolong sederhana. Seluruh tulisannya menjelaskan tentang biografi dan perjalanan kehidupan dari awal pertemuan antara siti qamariyyah (omi komaria) dengan nurcholish madjid, pernikahan, proses berumah tangga, hingga tanda-tanda menjelang kewafatan cak nur. Kisah selama 56 tahun berjalan begitu sederhana dalam pembahasaannya. Dapat saya katakan buku ini mampu mempengaruhi saya untuk menulis. Menulis sesuatu yang sederhana, menulis sesuatu yang kaya makna. Yaitu perjalanan hidup bersama seorang yang terpilih dan orang terdekat kita.
Melalui catatan-catatan pendek, bu omi dengan runtun bercerita tentang awal perjumpaan yang memang disengaja oleh Cak Nur. Nuasan-nuansa menulis terbangun seraya menggambarkan kejadian-demi kejadian yang terjadi.
Catatan pengguggah jiwa itu hadir sebagai perwakilan isi pikiran hati yang ingin diungkapkan. Dengan penyajian cerita yang tidak berat, sungguh kisah nyata itu berubah menjadi runtutan cerita yang dapat dipedomani hikmahnya dalam menjalani kehidupan.
Selain buku berjudul “Hidupku bersama Cak Nur” yang membangkitkan aktivitas menulis catatan-catatan. Buku Mengikat makna update karya Hernowo memberikan asupan ide yang lebih mendalam. Ada beberapa konsep aktivitas yang teradopsi dalam pola membaca dan menulis yang kemudian saya aplikasikan dalam kegiatan sehari-hari yaitu buku sebagai makanan pokok bergizi dan ngemil.
Saya mencoba menerapkan teori pertama (1) buku sebagai makanan pokok bergizi. Saya analogikan bahwa kebutuhan makan dalam sehari ialah 3 kali makan (waktu pagi, siang, dan malam). Itu artinya makan adalah kebutuhan pokok untuk hidup. Tanpa makan manusia akan mati. Maka dengan kata lain rutinitas kebutuhan membaca adalah kebutuhan pokok. Awalnya saya hanya membaca 1 buku dalam sehari, itupun buku-buku ilmiah atau journal penelitian. Kali ini akan saya tingkatkan menjadi 3 kali waktu makan. Atau minimal dengan 3 buku dalam sehari.
Hari ini misalnya. Sebelum berangkat mengikuti seminar proposal ananda Desi Oktaviana. Di waktu pagi saya sajikan sepotong sandwish bernutrisi karya Omi Komaria yang berjudul “Hidupku bersama Cak Nur”. Saya sempatkan sarapan pagi dengan hidangan menu bergizi dari catatan-catatan singkat istri rektor Universitas Paramadina ini. Di buku tersebut menceritakan perjalanan kehidupan yang mula-mula diawali dengan kisah pertemuan beliau dengan sosok yang disebut dengan “Cak Nur” orang nomer satu di Paramadina. Dapat saya katakan, buku ini cocok untuk pecinta penulis catatan seperti saya. Pasalnya, catatan yang dibuat bu Omi ini bersumber dari kisah nyata yang kemudian dituangkan dalam tulisan. Bukan karangan fiksi. Sehingga, alur cerita yang ada didalamnya benar-benar nyata tanpa setting. Di sisi lain, sentuhan-sentuhan hikmah semasa hidup berlangsung dapat ditersalur benar dalam sanubari pembaca. Inilah yang saya sebut dengan kekuatan catatan. The Power Of Notes. Seketika pula saya menerapkan menulis setelah membaca buku tersebut.
Siang sekitar pukul 14.07 saat hendak makan siang dengan buku karya Hernowo. Sesegera mungkin saya menuliskan hal-hal yang menarik dan penting saya peroleh dari buku tersebut sebagai asupan otak.
(Mengikat Makna Update Hernowo)
Dalam buku Hernowo mengatakan bahwa untuk menjalankan kegiatan membaca dan menulis awalilah dengan kesenangan dan kepedulian terhadap diri sendiri. Artinya kehidupan yang kita jalani ini amat terlalu sayang jika tidak dipedulikan untuk anda tuliskan. Ini yang kemudian saya maksud bahwa kepedulian merekam hikmah terhadap diri sendiri adalah sumber dari kekuatan catatan.
Menurut hemat saya, kesenangan terhadap aktivitas membaca maupun menulis haruslah terbangun dahulu. Pertama, mula-mula membiasakan diri agar membaca dan menulis untuk mendapatkan manfaat sebanyak-banyak dan sebesar-besarnya dalam pengembangan diri. Apabila sudah senang menjalankan kegiatan membaca dan menulis secara maraton, kontinu, dan konsisten lalu menghasilkan sesuatu yang bermakna bagi diri, bagikanlah pengetahuan dan pengalaman tersebut dalam menjalankan kegiatan membaca dan menulis yang hebat itu kepada orang lain.
Kedua, membiasakan membuat catatan. Ketika membuat tulisan dalam bentuk cacatan harian, catatan itu sungguh mulai memberikan banyak perhatian kepada diri Anda dan kepada apa yang terjadi di dalam hati anda. Apa yang ada dalam hati terkecil saya, yang paling rahasia, yang tersimpan di dalam diri maka tulislah hal-hal tersebut.
Yang terpenting dalam buku Hernowo menulis adalah memiliki kandungan kata mengikat. Mengikat disini artinya ialah sebuah kegiatan merekam, menyimpan dan mendokumentasikan. Catatan harian saya bersama rekan tim tentang therapi tertawa di Bali yang berjudul Balinesia ialah hasil merekam kejadian, menyimpan history, dan mendokumtasikan arsip-arsip berharga yang bertujuan menularkan energi-energi positif iqra’ dan uktub
Kebahagiaan sejati dari cacatan harianku saya dapat menulis secara sangat bebas. Kegiatan menulis yang saya lakukan berada dalam kendali mutlak saya. Di samping itu dengan menulis catatan saya dapat melibatkan diri secara penuh dan total. Saya juga dapat menjadi lebih dekat dengan diri saya sendiri. Semakin kerap saya menulis catatan semakin dekat pula jarak saya dengan diri saya. Saya juga dapat bertukar kabar, berdialog dan mengenal sisi-sisi pada diri saya yang tersembunyi yang selama ini saya tidak pedulikan dalam kesehariaan kehidupan saya. Lewat menulis, diri saya yang tidak sempat terjamah dan pedulikan itu, satu persatu bermunculan dan nampak lebih jelas.
Saya memulai aktivitas membaca dan menulis sejak saya kecil. Saya sering membuat essay yang menggambarkan keselurahan aktivitas saya misalnya saja Januari lalu saya pergi ke Bali saya menuliskan cacatan-catatan perjalanan saya dan mengirimkannya ke redaktur konsen labolatorium BKI UIN Sunan Kalijaga.
.
Kamis, 26 Mei 2016
Praktikum Mikro Konseling BKI UIN Sunan Kalijaga
Jika
dulu saya pernah menulis artikel tentang Pembekalan Mikro Koseling BKI UIN
Sunan Kalijaga. Hari ini saya akan
menulis tentang proses praktikum/aplikasi setelah pembekalan sekaligus proses
praktikum selama tatap muka 14 kali pertemuan.
Perlu diketahui, bahwa maksud dan tujuan Program
Studi BKI Uin Sunan Kalijaga Yogyakarta mengadakan mikro konseling ialah untuk
melatih kompetensi calon konselor islam bagi mahasiswa BKI yang profesional
dari segi pengusasaan teknik, pemberian layanan, tahap-tahap konseling serta
implementasinya terhadap bidang-bidang bimbingan konseling meliputi : bidang
pribadi, sosial, belajar, karir, keluarga, keagamaaan.
Seperti yang tertulis dalam artikel sebelumnya
pentingnya pembekalan mikro konseling lahir atas dasar peliknya problematika
yang hadir pada pelaksanaan konseling di Perguruan Tinggi dewasa ini. Selain
itu, hambatan-hambatan yang muncul yang mendasar seperti penerapan pendekatan
terhadap permasalahan klien, mengkawinkan kedua teori berbasis umum dan
islam, serta pemilihan teknik dalam
pendekatan menambah deretan nominasi probelmatika yang hadir. Apalagi sampai
pada praktik ilegal yang tidak berdasarkan kode etik alias sak-sake atau
asal-asalan.
Dari probelamtika itulah, pemicu utama program studi
BKI menjembatani para calon konselor agar tidak salah proses dan arah. Sehingga
praktik mikro berupaya memberikan orientasi dasar, tujuan, sistem pelaksanaan
yang benar, bentuk, praktik lapangan, analisis masalah sampai penilaian serta
penyususnan laporan kepada mahasiswa, dalam proses pelaksanaan mikro konseling
yang terplaning maupun unplanning secara utuh.
Nah, mikro konseling adalah kuliah praktikum yang
harus diikuti oleh mahasiswa program studi BKI (Bimbingan dan Konseling Islam) yang
duduk pada semester VI. Mikro konseling dilaksanakan dalam bentuk pelatihan
konseling dengan mengkawinkan pendekatan umum dan islam secara terprogram di
bawah bimbingan Tim Dosen Mikro Konseling untuk memenuhi salah satu persyaratan
kompetensi sebagai konselor yang profesional.
Hal tersebut dilakukan agar mahasiswa mendapatkan
ketrampilan yang sesuai standar secara komprehensif dan tidak parsial. Selain
itu dalam mikro konseling mahasiswa diarahkan mampu menerapkan dan
mengintregrasikan teori dan pendekatan konseling secara konektif, intregratif.
Ini salah satu upaya yamg saya katakan mempersiapkan kompetensi mahasiswa BKI serius
dan fokus ketika praktik komseling di lapangan.
Untuk itu, dibutuhkan praktikum mikro konseling yang
benar-benar real. Artinya konselor akan menghadapi klien yang tidak dikenal
sebelumnya, berbeda usia, dan berbeda kebudayaan. Konseli yang dihadapipun berlatar
belakang pendidikan beragam, mulai dari jenjang pendidikan SMP, SMA, Perguruan
Tinggi, bahkan sampai pegawai, guru. Sehingga dalam praktikum mikro Konseling
kali ini, mahasiswa akan dihadapkan oleh permasalahan yang benar-benar real
(nyata) melalui konseli itu sendiri.
Disinilah letak kompetitif dan kredibilitas keilmuan
konseling mahasiswa BKI diuji. Masimg-masing mahasiswa harus cakap mengidentifikasi
dan mendiagnosis langsung pokok masalah dan masalah-masalah penyerta,
mengaplikasikan teknik kedalam penyelesaian, dan sekaligus mengkawinkan teori
islam dengan umum sebagai kunci penyelesaian masalah.
Selain itu dalam proses praktikum mikro konseling mahasiswa
dituntut aplikatif serta aktif praktik dalam menerapkan teknik-teknik konseling
dengan berbagai pendekatan konseling individual
yang sesuai terhadap permasalahan konseli.
Adapun proses praktikum Mikro Konseling ini
dilaksanakan di Studio Suka TV Gedung PTIPD (Pusat Tegnologi Informasi
Pengembangan Dakwah). Praktikum tersebut, akan dilakukan oleh konselor dan
konseli berdasarkan urutan jadwal yang terlampir. Dalam proses praktikum mikro
ini, seluruh proses konseling akan di syutingm oleh crew Suka Tv. Proses
praktikum yang telah di shoot video akan diolah oleh crew kemudian diberikan
kepada tim Dosen Mikro Konseling dalam bentuk CD. Video tersebut akan
ditontonkan kepada mahasiswa dan tim Dosen Praktikum. Kemudian bersama-sama
mengevaluasi dan menilai kelebihan dan kekurangan selama proses konseling
terjadi.
Dalam evaluasi penilaian dan perbaikan tersebut
terdapat beberapa kriteria standar yang harus dicapai oleh mahasiswa. Salah satunya
ialah durasi waktu. Durasi proses konseling yang berlangsung tidak boleh kurang
dari lima belas menit. Jika terdapar beberapa mahasiswa yang kurang memenuhi
syarat maka akan dilakukan remidial praktikum konseling kedua.
Selasa, 24 Mei 2016
The Power Of Notes
The Power Of Notes
Kekuatan Catatan
Oleh
: Dewi Purwati
Hargai sebuah proses. Tulisan ini bukanlah tentang
seberapa bisa menulis. Tulisan ini bukan pula tentang keberhasilan menulis yang
idealis karena tulisan ini masih minimalis. Jauh dari kata baik apalagi
menarik. Yang saya sadari saya menangis, di zaman yang dilematis semua orang ingin
serba praktis. Ironis, plagiarism mewabah. Merambah generasi atas bawah. Mana
boleh generasi muda membaca tanpa bisa menulis? Mana boleh pula menulis tanpa
boleh membaca? Tragis, miris, ingin menangis.
Bagi saya, tulisan ini bukan untuk membuat orang
tertarik. Tapi usaha mau menjadi lebih baik. Bukan tulisan yang ingin dipuji,
apalagi dihargai. Ini lebih dari sekedar sebuah usaha membangun kesadaran jiwa.
Melejitkan potensi yang lama tak berdaya guna. Mengorek jiwa yang luput tak
terjamah. Mencari sebuah epifani diri, dari kegandrungan menulis dan membaca.
Sejak lama saya suka aktivitas menulis dan membaca.
Terhitung sejak duduk dibangku Sekolah Dasar kelas tiga. Saat awal pertama
kalinya saya bisa membaca. Untuk kali pertama saya mengeja buku-buku dengan benar
dan lancar. Saya menenggelamkan diri bersama dunia baru, menjadi kutu buku bersama
teman baru yaitu buku. Buku-buku itu adalah buku cerita bobo dan putri nirwana.

Majalah bobo th. 2000
Majalah Bobo salah satu bacaan unggulanku. Selain
membaca juga berlatih berimajinasi bermain peran sendiri, ketawa haha hihi mengarang
sambil berkhayal tentang tokoh yang ada didalam buku cerita. Ku hadirkan mereka
dalam dunia saya. Saat tidak menyukai akhir alur ceritanya, saya rebah lalu
saya rubah naskah.. Saya tulis ulang cerita itu dibuku lain. Saya ubah naskah sesuai
sketsa saya. Sesuai versi khalayan saya. Jika megingat dulu itu, benar-benar lucu
dan lugu. Saya berbakat pinter menjadi skrip writer sampai ceritanya jadi
berputar-putar.
Membaca itu akan memuncullkan daya imajinasi. Iya, daya
imajinasi akan tercipta sebagai upaya menuangkan kembali/merekonstruksi apa-apa
yang diterima otak dengan kata-kata. Luar biasa. Kreativitas dan aktivitas yang
sering muncul itu seperti mengarang, otak dapat leluasa dan bebas menciptakan
kata yang bermakna.
Catatan adalah sebuah memo pengingat peristiwa. Peristiwa
istimewa menaburkan ketentraman jiwa dan sumber bahagia. Peristiwa duka menawarkan
pelajaran berharga. Istimewa ataupun duka samalah artinya sebuah peristiwa.
Terlalu sayang bila hanya dikenang. Terlalu murah jika hanya disimpan dikening
tanpa dituang. Catatan, adalah jendela anda mendekatkan diri pada aktivitas
tulis dan baca.
Seperti yang terjadi, pada istri orang nomer satu di
Paramaddina, Ibu omi gemar menulis kerena terbiasa membuat catatan. Catatan itu
sederhana namun kaya makna. Kisah nyata tanpa rekayasa. Bukan motif apalagi
fiktif belaka. Ini kisah hidup yang menghidupkan. Meski hanya berasal dari serpihan,
catatan catatan itu kini menjadi lembaran.

|
Judul
Buku
|
Hidupku
Bersama Cak Nur “Catatan Omi Komaria-Madjid”
|
|
Penulis
|
Omi
Komaria Madjid/Istri Nurcholish Madjid (Rektor Paramadina)
|
|
Penerbit
|
Nucholish
Madjid Sosiety
|
|
Tahun
|
2015
|
|
Resensi
|
Membaca buku yang ditulis melalui
catatan-catatan karya istri Rektor Paramadina ini amatlah menggugah jiwa
khususnya dalam pengabadikan pejalanan yang pernah dilewati semasa hidup
dengan orang-orang yang pernah ada dalam hidup. Isi buku tersebut benar-benar
renyah seakan siapapun yang membaca sedang hadir menyaksikan kisah nyata di dunia
cak nur dan bu omi. Rasanya kali ini saya sedang menyantap jagung manis yang benar-benar
bergizi bagi peredaran otak untuk memunculkan ide dan gagasan dalam menulis
catatan-catatan kehidupan.
Isi buku karya ibu Omi ini tergolong
sederhana. Seluruh tulisannya menjelaskan tentang biografi dan perjalanan kehidupan
dari awal pertemuan antara siti qamariyyah (omi komaria) dengan nurcholish
madjid, pernikahan, proses berumah tangga, hingga tanda-tanda menjelang
kewafatan cak nur. Kisah selama 56 tahun berjalan begitu sederhana dalam
pembahasaannya. Dapat saya katakan
buku ini mampu mempengaruhi saya untuk menulis. Menulis sesuatu yang
sederhana, menulis sesuatu yang kaya makna. Yaitu perjalanan hidup bersama
seorang yang terpilih dan orang terdekat kita.
Melalui catatan-catatan pendek, bu omi
dengan runtun bercerita tentang awal perjumpaan yang memang disengaja oleh
Cak Nur. Nuasan-nuansa menulis terbangun seraya menggambarkan kejadian-demi
kejadian yang terjadi.
Catatan pengguggah jiwa itu hadir
sebagai perwakilan isi pikiran hati yang ingin diungkapkan. Dengan penyajian
cerita yang tidak berat, sungguh kisah nyata itu berubah menjadi runtutan cerita
yang dapat dipedomani hikmahnya dalam menjalani kehidupan.
|
Selain
buku berjudul “Hidupku bersama Cak Nur” yang membangkitkan aktivitas menulis
catatan-catatan. Buku Mengikat makna update karya Hernowo memberikan asupan ide
yang lebih mendalam. Ada beberapa konsep aktivitas yang teradopsi dalam pola
membaca dan menulis yang kemudian saya aplikasikan dalam kegiatan sehari-hari
yaitu buku sebagai makanan pokok bergizi dan ngemil.
Saya
mencoba menerapkan teori pertama (1) buku sebagai makanan pokok bergizi. Saya
analogikan bahwa kebutuhan makan dalam sehari ialah 3 kali makan (waktu pagi,
siang, dan malam). Itu artinya makan adalah kebutuhan pokok untuk hidup. Tanpa
makan manusia akan mati. Maka dengan kata lain rutinitas kebutuhan membaca
adalah kebutuhan pokok. Awalnya saya hanya membaca 1 buku dalam sehari, itupun
buku-buku ilmiah atau journal penelitian. Kali ini akan saya tingkatkan menjadi
3 kali waktu makan. Atau minimal dengan 3 buku dalam sehari.
Hari
ini misalnya. Sebelum berangkat mengikuti seminar proposal ananda Desi Oktaviana.
Di waktu pagi saya sajikan sepotong sandwish bernutrisi karya Omi Komaria yang
berjudul “Hidupku bersama Cak Nur”. Saya sempatkan sarapan pagi dengan hidangan
menu bergizi dari catatan-catatan singkat istri rektor Universitas Paramadina
ini. Di buku tersebut menceritakan perjalanan kehidupan yang mula-mula diawali
dengan kisah pertemuan beliau dengan sosok yang disebut dengan “Cak Nur” orang
nomer satu di Paramadina. Dapat saya katakan, buku ini cocok untuk pecinta
penulis catatan seperti saya. Pasalnya, catatan yang dibuat bu Omi ini
bersumber dari kisah nyata yang kemudian dituangkan dalam tulisan. Bukan
karangan fiksi. Sehingga, alur cerita yang ada didalamnya benar-benar nyata
tanpa setting. Di sisi lain, sentuhan-sentuhan hikmah semasa hidup berlangsung
dapat ditersalur benar dalam sanubari pembaca. Inilah yang saya sebut dengan
kekuatan catatan. The Power Of Notes. Seketika pula saya menerapkan menulis
setelah membaca buku tersebut.
Siang
sekitar pukul 14.07 saat hendak makan siang dengan buku karya Hernowo. Sesegera
mungkin saya menuliskan hal-hal yang menarik dan penting saya peroleh dari buku
tersebut sebagai asupan otak.

(Mengikat Makna Update Hernowo)
Dalam
buku Hernowo mengatakan bahwa untuk menjalankan kegiatan membaca dan menulis
awalilah dengan kesenangan dan kepedulian terhadap diri sendiri. Artinya
kehidupan yang kita jalani ini amat terlalu sayang jika tidak dipedulikan untuk
anda tuliskan. Ini yang kemudian saya maksud bahwa kepedulian merekam hikmah
terhadap diri sendiri adalah sumber dari kekuatan catatan.
Menurut
hemat saya, kesenangan terhadap aktivitas membaca maupun menulis haruslah
terbangun dahulu. Pertama, mula-mula membiasakan diri agar membaca dan menulis
untuk mendapatkan manfaat sebanyak-banyak dan sebesar-besarnya dalam
pengembangan diri. Apabila sudah senang menjalankan kegiatan membaca dan
menulis secara maraton, kontinu, dan konsisten lalu menghasilkan sesuatu yang
bermakna bagi diri, bagikanlah pengetahuan dan pengalaman tersebut dalam
menjalankan kegiatan membaca dan menulis yang hebat itu kepada orang lain.
Kedua,
membiasakan membuat catatan. Ketika membuat tulisan dalam bentuk cacatan
harian, catatan itu sungguh mulai memberikan banyak perhatian kepada diri Anda
dan kepada apa yang terjadi di dalam hati anda. Apa yang ada dalam hati
terkecil saya, yang paling rahasia, yang tersimpan di dalam diri maka tulislah
hal-hal tersebut.

Yang
terpenting dalam buku Hernowo menulis adalah memiliki kandungan kata mengikat.
Mengikat disini artinya ialah sebuah kegiatan merekam, menyimpan dan mendokumentasikan.
Catatan harian saya bersama rekan tim tentang therapi tertawa di Bali yang berjudul
Balinesia ialah hasil merekam kejadian, menyimpan history, dan mendokumtasikan
arsip-arsip berharga yang bertujuan menularkan energi-energi positif iqra’ dan
uktub
Kebahagiaan
sejati dari cacatan harianku saya dapat menulis secara sangat bebas. Kegiatan
menulis yang saya lakukan berada dalam kendali mutlak saya. Di samping itu
dengan menulis catatan saya dapat melibatkan diri secara penuh dan total. Saya
juga dapat menjadi lebih dekat dengan diri saya sendiri. Semakin kerap saya
menulis catatan semakin dekat pula jarak saya dengan diri saya. Saya juga dapat
bertukar kabar, berdialog dan mengenal sisi-sisi pada diri saya yang
tersembunyi yang selama ini saya tidak pedulikan dalam kesehariaan kehidupan
saya. Lewat menulis, diri saya yang tidak sempat terjamah dan pedulikan itu,
satu persatu bermunculan dan nampak lebih jelas.
Saya
memulai aktivitas membaca dan menulis sejak saya kecil. Saya sering membuat
essay yang menggambarkan keselurahan aktivitas saya misalnya saja Januari lalu
saya pergi ke Bali saya menuliskan cacatan-catatan perjalanan saya dan
mengirimkannya ke redaktur konsen labolatorium BKI UIN Sunan Kalijaga.
Sabtu, 14 Mei 2016
Ngangsu Kaweruh Bareng Sahabat Pena Nusantara
Ngangsu Kaweruh Bareng Sahabat Pena Nusantara
Berawal dari pertemuan di Trenggalek saat acara pelatihan PKBM wilayah Jatim. Saya dipertemukan langsung untuk pertama kalinya dengan penulis kelahiran asal Tulungangung. Yaitu bapak Ngainun Naim. Tepatnya karena saat itu saya memperoleh kesempatan menemani bapak Muhsin Kalida yang diutus untuk membuka acara mewakili Kemendikbud di Jatim (Blitar, Tulungagung, Trenggalek).
Setelah selesai acara di Trenggalek saya dipanggil oleh bapak Muhsin untuk bergabung, duduk berbincang dengan beliau. Merasa ragu-ragu sambil meringis sendiri saya memilih duduk di seberang sofa sambil tersenyum pada Pak Ngainun. Belum mempunyai keberanian mendekat. Intinya naluri wanitaku saat itu keluar. Alias malu. Itulah sejarah pertama kalinya saya mendapat kesempatan bertemu langsung dengan beliau. Selama itu saya hanya mengikuti dan membaca status-status beliau di sosial media (fb dan blogger).
Tulisan-tulisan beliau selama ini banyak membuat saya berfikir berkali-kali. Khususnya panggilan untuk menulis. Bisa dikatakan buku The Power of Reading karya Ngainun Naim adalah salah satu buku yang memberikan kekuatan besar untuk saya rajin membaca, membeli buku, pergi ke perpus, dan diskusi (ikut anggota ataupun jadi pemantik). Intinya harus produktif. Sungguh buku yang inspiratif, mudah dipahami, tetapi tetap detail.
Hingga hari ini tepatnya di Wisma Sargede hari Minggu, 10 April 2016 silaturahmiku dengan beliau terulang kembali. Pasalnya pagi tadi, pukul 7.30 beliau memposting sebuah status yang menerangkan keberadaan beliau di Yogyakarta mengisi sebuah acara pelatihan menulis SPN (Sahabat Pena Nusantara). Saat itu aku baru membuka media sosial sekitar pukul 9.00. Intinya beliau mengajak teman-teman Yogya untuk merapat mengikuti pelatihan “Belajar Menulis Dengan Menulis”.
Bagaimana bisa aku membiarkan diriku tidak menjumpai beliau? yang ilmunya baru aku serap 10 % saja di Trenggalek? Pasalnya beliau dulu hanya menyampaikan materi tidak lebih dari 18 menit. Mana boleh aku membiarkan diriku menikmati ilmu yang setengah-tengah? apalagi melewatkan waktu berharga ngangsu kaweruh kembali tentang ilmu-ilmu beliau yang dulu sempat tertunda?
Akhirnya ku kumpulkan niat dan kuputuskan harus hadir.
Sampai di Wisma pukul 10.30. Acara telah dimulai. Saya disambut oleh M. Husnaini di depan pintu dengan hangat. Kemudian beliau dengan santun mempersilahkanku duduk dan bergabung diantara para anggota mengikuti jalannya diskusi yang interaktif.
Rupanya bukan hanya Dr. Ngainun Naim yang menjadi pemateri hari ini, tetapi para master penulis hebat SPN (Sahabat Pena Nusantara) lain dihadirkan menjadi narasumber. Seperti Bapak Much. Khoiri, M. Husnaini, Hernowo, dan Prof. M Chirzsin.
Yang paling mengesankan hari ini saya duduk dan menghabiskan makan siang sambil diskusi kecil dengan bapak Ngainun Naim, Moch Khoiri beserta istri dan putrinya. Ditengah-tengah makan siang tadi alhamdulillah saya memperoleh sumbangan cipratan ide cemerlang dari para master penulis (Bapak Moch Khoiri) tentang judul buku “Balinesia” sebagai kekayaan BKI.
Berfikir Dewasa
Tafakkur Pagi
Berfikir Dewasa
Berfikir dewasa itu memang diperlukan dalam kehidupan sosial kita. Berfikir dewasa merupakan fase perkembangan psikologis yang harus dilalui manusia dalam menuju kematangan usia. Namun hal itu bukan berarti kedewasaan hanya dapat diraih pada usia dewasa. Sebab kedewasaan tidaklah mengenal usia, derajat, tahta, pfofesi dll.
Mengapa? Menurut hemat saya dewasa itu bukanlah hanya sekedar tahap proses lagi, sudah pada tahap mampu menerima dirinya sendiri juga bahkan orang lain, menerima sifat-sifat negatif dan positif dirinya sendiri sekaligus cakap menempatkan posisi dirinya dan merespon dengan baik & benar setiap situasi hidup yang dihadapi, berfikir secara obyektif (bukan lagi subyektif), bukan bertindak atas dasar keinginan saya pribadi tetapi berdasarkan kepentingan umum yang tidak merugikan orang lain sehingga tujuan akhirnya tidak lain dan tidak bukan hanya kebahagiaan (hapinness), kemaslahatan dan keharmonisan tentunya.
Seperti yang saya definisikan diatas, berfikir dewasa tidaklah mengenal usia. Siapapun yang telah mampu mengintegrasikan cara berfikir, cara merespon, cara berbicara, cara bertingkah laku, cara memandang sesuatu obyektif, dan terutama cara menempatkan diri maka seseorang tersebut telah dikatakan berfikir dewasa.
Dari Hurlock “Psikologi Perkembangan” saya menyimpulkan bahwa perkembangan usia dewasa akan mempengaruhi cara berfikir seseorang. Sebagian manusia dewasa yang melampaui tahap perkembangan psikologinya dengan baik maka ia akan berhasil menjadi orang dewasa seutuhnya. Begitu pula sebaliknya, apabila sebagian orang dewasa gagal melampaui tahap perkembangan psikiloginya maka terdapat ketidaksesuaian. Sehingga tak jarang kita mendapati orang dewasa yang masih belum befikir dewasa, padahal usianya telah memasukki masa kematangan (misalnya 35 tahun).
Berfikir dewasa dibutuhkan dalam setiap lini kehidupan. Terlebih dalam urusan relationship (hubungan) dan frienship (persahabatan). Dalam ukuran relationship (hubungan) cakupunya amat luas, seperti hubungan antar warga negara, umat beragama, hubungan kekeluargaan dll. Terkhusus berfikir dewasa menjadi amat diperlukan dalam melihat perbedaan dan fenomena-fenomena yang kian hadir memecah belah ummat. Inilah efek posistif berfikir dewasa yang saya maksudkan, yang kemudian melahirkan sikap toleransi (merespon yang baik dan menempatkan diri dengan benar).
Begitu halnya dalam dunia persahabatan misalnya, berfikir dewasa dapat dilihat ketika sedang menghadapi sebuah masalah. Seseorang dikatakan dewasa akan memilih menyelesaikan masalah serta menjaga sikap dan tidak mengabaikannya. Semakin dewasa bersikap kesabaran secara tidak langsung menjadi bagian sisi kepribadian kita. Inilah efek posistif berfikir dewasa yang kemudian melahirkan kesabaran (bertindak yang bijak dan benar). Saya sadar bahwa sebuah kemakluman serapi apapun suatu hubungan maupun persahabatan akan ada masa dimana hubungan itu akan berantakan. Disitulah Tuhan menguji kedewasaan kita.
Melejitkan Diri Dengan Menulis
Melejitkan Diri Dengan Menulis
Kemarin ada adik angkatan BKI yang bertanya kepada saya seperti ini: Saya pengen nulis tapi takut kalau tulisan-tulisan saya itu dibilang sok tahu, atau apalah gitu? Piyeee kak?
Sambil tersenyum saya jawab, Kita ini masih belajar. Belum juga menulis apalagi jadi pengarang buku, tapi sudah takut dikritik. Masalah agar tidak dianggap sok tahu, kita boleh memilih tema tulisan yang ringan-ringan saja, jangan tulisan yang temanya berat. Misalnya, sharing pengalaman, peristiwa atau event seharian yang kamu lewati atau diskusi saat ngobrol bareng sama temen-teman itu. Justru bisa jadi bahan tulisan yang menginspirasi. Mau menulis itu tidak wajib kok nulis tentang tema ekonomi dan bisnis, agama, pendidikan, kriminalitas, apalagi masalah hukum sampi politik. Kan masih belajar?
Jangan salah lhoo Bunda Asma Nadia penulis wanita Indonesia yang hebat saat seminar di UGM, menuturkan beliau berangkat menulis dari pengalaman pribadinya bersama sahabat-sahabatnya sehingga kisahnya kongruen, lebih hidup dan inspiratif.
Saya mengawali tulisan dengan hobby menulis perjalanan hidup saya. Yaaa mungkin orang akan berkata kurang menarik, namun bagi saya itulah latihan bagi pemula seperti saya meski sesederhana ini, cuma begitu. Saya menulis ya masih seperti ini, belum mampu menggunakan kaedah tulis yang benar dan baik. Tak jarang bahkan sering saya blepotan nulisnya malah terkadang sampai ngak nyambung. Kapan saya mau menulis yaa menulis saja.

Catatan Ukhty Dewi
Menulis itu bukanlah persoalan saya tahu, kamu tidak tahu. Maka nih baca tulisanku. Biar kamu tahu. Bukan seperti itu. Namun menulis adalah soal saya bisanya menulis ya seperti ini, sesederhana ini, cuma begini. Saat kita dianggap sok tahu, maka seyogyanya kita mohon perbaikan. Ilmu-mu jauh lebih banyak bukan? Minta ishlah mohon perbaikan. Tolonglah dikoreksi. Mohon ingatkan jika salah. Penulis yang benar-benar mencintai aktivitas tulis menulis yang sesungguhnya lebih menyukai perbaikan bukan keangkuhan dan merasa bahwa tulisannnya sudah benar-benar baik. Dan biasanya mereka (pera penulis) punya cara yang indah dalam mengkoreksi, tanpa stereotip terlebih dahulu.
Lagi-lagi belum juga menulis. Kita tidak perlu terlalu pusing dulu memikirkan kata-kata yang akan menjudge kita sok tahu. Bisa jadi stigma kita yang salah. Bukankan penulis hebat sekalipun selalu berkata mereka selalu belajar menulis dan terus belajar menulis? Belum ada lhoo penulis sejati yang membully penulis pemula. Selama saya kenal penulis-penulis hebat dari kalangan akademisi maupun lbukan entah di dunia nyata maupun lewat dunia maya (social media) mereka mendukung (supporting) dengan niat dan kemauan menulis para penulis pemula. Yang penting mau nulis dulu, mau bagaimanapun hasil tulisannya, yakin deh mereka sangat mengapresiasi usaha dan karya kita. Wallahu a’lam
Tips Parenting
Tips Parenting
Malam ini seperti biasa saya makan di sebuah warung langganan saya, warung makan "JFC" . Kebetulan lokasinya tidak jauh dari Gedung Putih (alias lima langkah dari boardinghouse/kostku tepatnya berada di Sapen). Setelah memilih beberapa lauk seperti biasa karena sudah akrab, saya ngobrol-ngobrol dengan ibu yang punya warung sambil menikmati rica-rica. Ibu pemilik warungnya belum terlalu tua kira kira seumuran dewasa madya. Saat sedang asyik bebincang saya melihat seorang anak yang berteriak. Anak itu menangis sambil berteriak dan menarik-narik rok bundanya. Anak itu berteriak” Ibu peliiiiiiiiiiiiiiiiiit……! Saya sekejap mengamati kejadian ibu dan anak tersebut. Ternyata, anak itu sedang ngambek minta sesuatu pada ibunya.
Bayangkan wahai Bunda juga calon Bunda jika ilustrasi cerita yang saya lihat itu ada didunia para bunda semuaJ
Bagaimana perasaan bunda jika mengalami situasi seperti itu? Barangkali munculkah rasa malu dan mungkin saja malah ingin segera pergi dari tempat itu. Suara tangis dan teriakan yang berisik serta rasa malu itulah yang biasanya mendorong orang tua untuk menuruti permintaan anak. Maksudnya agar segera diam dan masalah selesai. Lalu apakah memang masalahnya akan cepat selesai? Untuk saat itu mungkin iya. Namun, di lain waktu anak akan mengulangi perilaku yang sama dengan stimulus yang sama. Bunda, ingatkah tentang sifat bawah sadar?
Pikiran bawah sadar akan merekam hal-hal yang menyenangkan pemiliknya. Ketika perilaku merengek dan berteriak dilakukan sang anak sebagai usaha untuk mendapatkan yang diinginkan tercapai, dilain waktu anak akan melakukan hal yang sama untuk mewujud keinginannya. Nah .. Apa Bunda atau Ayah mau jika itu terjadi? Pastinya tidak, bukan? Lalu bagaimana solusinya?
Saya sedikit belajar dan menganalisis pengalaman belajar saya tentang proses psikologi pendidikan anak salah satu tip keberhasilan mengasuh adalah konsisten. Ada dua hal yang saya dapatkan untuk soslusi dari perilaku ini, yaitu pencegahan (preventif) dan penanganan (kuratif). Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah dalam bentuk kesepakatan. Maksudnya apa, kok ada kesepakatan segala? Yup! Bukan masalah tempatnya atau dimana serta apa yang mau dibeli, juga bukan masalah harga barang yang dibeli, melainkan tentang kemampuan anak konsisten terhadap komitmen.
Jadi, saat akan pergi kemanapun. Sebisa mungkin dilakukan kesepakatan dengan anak terhadap apa yang mau dilakukan disana, terutama ketika akan membeli apa saja.
Berikut ini contoh diskusi untuk kesepakatan
Umi : “Dewi sayang, Umi mau ke warung, Dewi mau ikut?”
Dewi : “Mauuuuu, Umi”
Umi : “Oke, nanti Umi mau beli sabun, odol, dan sikat gigi. Dewi mau beli sesuatu juga?”
Dewi : “Iya umi….. aku mau beli permen coklat dan es krim”
Umi : “Oh begitu…Bagaimana kalau permen saja? Dewi bisa beli es krim di lain waktu. Bagaimanamenurut Dewi?”
Dewi : “Iya mau permen coklat saja”
Umi : “Berapa buah?”
Dewi : “Tiga ya…..um….
Umi : “Bagaimana kalau satu saja….?”
Dewi : “Inginnya tiga umi…(sambil merajuk dan memeluk umi)
Umi : “Bagaimana kalau dua saja…?”
Dewi : “Hmmmmm…iya deh”
Umi : “Baiklah..sepakat ya sayang?” (sambil mengulurkan tangan)
Dewi : “Oke umiiii…” (sambil bersalaman)
Umi kemudian memeluk dan mencium kening Dewi.
Nah untuk Bunda juga calon Bunda semua, usahakan berangkat ke warung dengan kondisi sudah ada kesepkatan. Ketika sampai di warung nanti kemungkinan ada kejadian Dewi meminta lebih dari kesepakatan. Jadi (Umi dapat mengingatkan Dewi tentang kesepakatan tersebut). Seandainya Dewi menangis atau berteriak memaksa untuk dipenuhi keinginannya, Umi dapat berkata “Maaf Dewi, Dewi sudah sepakat tadi dirumah, bukan?”
Sampaikan dengan nada yang sedang dan bijak serta ekspresi yang hangat, tidak perlu dengan nada tinggi, dengan kerutan di kening, atau mata melotot, apalagi sampai ikut berteriak-teriak.
Lalu bagaimana luw Dewi masih melakukan aksi protes ?
Bunda tidak perlu panik menghadainya. Hadapilah tetap dengan nada suara yang sedang dan ekspresi hangat, posisi tubuh agak merendah, lalu tenangkan Dewi. Jika masih seperti itu, temani saja di sampingnya, sambil sesekali ucapkan bahwa Bunda akan menunggu sampai Dewi tenang.
JIka orangtua konsisten dengan penanganan ini, emosi anak akan mereda dengan sendirinya seiring dengan lelah fisiknya.
Jika sudah tenang, berikan pelukan dan ciuman, lalu menggandeng tangannya untuk diajak pulang bersama. Sepanjang perjalanan pulang tidak perlu menasehati atau berkomentar atas perilakunya tadi. Ajak bicara dengan hal-hal yang menyenangkan misal, membicarakan hal-hal yang dilihat juga ditemui di jalan. Lakukan secara konsisten penanganan seperti iti maka perilaku “ngambek” di warung seperti tadi Insya Allah di masa mendatang tidak akan terulang lagi.
Pesan untuk diri sendiri : Ingat dirimu adalah calon Ibu untuk anak-anakmu kelak, keberhasilan mengasuh adalah konsisten. Semoga keberadaanmu senantiasa bermanfaat bagi orang lain. Aamiin ya Rab.. ^_^
Malam ini seperti biasa saya makan di sebuah warung langganan saya, warung makan "JFC" . Kebetulan lokasinya tidak jauh dari Gedung Putih (alias lima langkah dari boardinghouse/kostku tepatnya berada di Sapen). Setelah memilih beberapa lauk seperti biasa karena sudah akrab, saya ngobrol-ngobrol dengan ibu yang punya warung sambil menikmati rica-rica. Ibu pemilik warungnya belum terlalu tua kira kira seumuran dewasa madya. Saat sedang asyik bebincang saya melihat seorang anak yang berteriak. Anak itu menangis sambil berteriak dan menarik-narik rok bundanya. Anak itu berteriak” Ibu peliiiiiiiiiiiiiiiiiit……! Saya sekejap mengamati kejadian ibu dan anak tersebut. Ternyata, anak itu sedang ngambek minta sesuatu pada ibunya.
Bayangkan wahai Bunda juga calon Bunda jika ilustrasi cerita yang saya lihat itu ada didunia para bunda semuaJ
Bagaimana perasaan bunda jika mengalami situasi seperti itu? Barangkali munculkah rasa malu dan mungkin saja malah ingin segera pergi dari tempat itu. Suara tangis dan teriakan yang berisik serta rasa malu itulah yang biasanya mendorong orang tua untuk menuruti permintaan anak. Maksudnya agar segera diam dan masalah selesai. Lalu apakah memang masalahnya akan cepat selesai? Untuk saat itu mungkin iya. Namun, di lain waktu anak akan mengulangi perilaku yang sama dengan stimulus yang sama. Bunda, ingatkah tentang sifat bawah sadar?
Pikiran bawah sadar akan merekam hal-hal yang menyenangkan pemiliknya. Ketika perilaku merengek dan berteriak dilakukan sang anak sebagai usaha untuk mendapatkan yang diinginkan tercapai, dilain waktu anak akan melakukan hal yang sama untuk mewujud keinginannya. Nah .. Apa Bunda atau Ayah mau jika itu terjadi? Pastinya tidak, bukan? Lalu bagaimana solusinya?
Saya sedikit belajar dan menganalisis pengalaman belajar saya tentang proses psikologi pendidikan anak salah satu tip keberhasilan mengasuh adalah konsisten. Ada dua hal yang saya dapatkan untuk soslusi dari perilaku ini, yaitu pencegahan (preventif) dan penanganan (kuratif). Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah dalam bentuk kesepakatan. Maksudnya apa, kok ada kesepakatan segala? Yup! Bukan masalah tempatnya atau dimana serta apa yang mau dibeli, juga bukan masalah harga barang yang dibeli, melainkan tentang kemampuan anak konsisten terhadap komitmen.
Jadi, saat akan pergi kemanapun. Sebisa mungkin dilakukan kesepakatan dengan anak terhadap apa yang mau dilakukan disana, terutama ketika akan membeli apa saja.
Berikut ini contoh diskusi untuk kesepakatan
Umi : “Dewi sayang, Umi mau ke warung, Dewi mau ikut?”
Dewi : “Mauuuuu, Umi”
Umi : “Oke, nanti Umi mau beli sabun, odol, dan sikat gigi. Dewi mau beli sesuatu juga?”
Dewi : “Iya umi….. aku mau beli permen coklat dan es krim”
Umi : “Oh begitu…Bagaimana kalau permen saja? Dewi bisa beli es krim di lain waktu. Bagaimanamenurut Dewi?”
Dewi : “Iya mau permen coklat saja”
Umi : “Berapa buah?”
Dewi : “Tiga ya…..um….
Umi : “Bagaimana kalau satu saja….?”
Dewi : “Inginnya tiga umi…(sambil merajuk dan memeluk umi)
Umi : “Bagaimana kalau dua saja…?”
Dewi : “Hmmmmm…iya deh”
Umi : “Baiklah..sepakat ya sayang?” (sambil mengulurkan tangan)
Dewi : “Oke umiiii…” (sambil bersalaman)
Umi kemudian memeluk dan mencium kening Dewi.
Nah untuk Bunda juga calon Bunda semua, usahakan berangkat ke warung dengan kondisi sudah ada kesepkatan. Ketika sampai di warung nanti kemungkinan ada kejadian Dewi meminta lebih dari kesepakatan. Jadi (Umi dapat mengingatkan Dewi tentang kesepakatan tersebut). Seandainya Dewi menangis atau berteriak memaksa untuk dipenuhi keinginannya, Umi dapat berkata “Maaf Dewi, Dewi sudah sepakat tadi dirumah, bukan?”
Sampaikan dengan nada yang sedang dan bijak serta ekspresi yang hangat, tidak perlu dengan nada tinggi, dengan kerutan di kening, atau mata melotot, apalagi sampai ikut berteriak-teriak.
Lalu bagaimana luw Dewi masih melakukan aksi protes ?
Bunda tidak perlu panik menghadainya. Hadapilah tetap dengan nada suara yang sedang dan ekspresi hangat, posisi tubuh agak merendah, lalu tenangkan Dewi. Jika masih seperti itu, temani saja di sampingnya, sambil sesekali ucapkan bahwa Bunda akan menunggu sampai Dewi tenang.
JIka orangtua konsisten dengan penanganan ini, emosi anak akan mereda dengan sendirinya seiring dengan lelah fisiknya.
Jika sudah tenang, berikan pelukan dan ciuman, lalu menggandeng tangannya untuk diajak pulang bersama. Sepanjang perjalanan pulang tidak perlu menasehati atau berkomentar atas perilakunya tadi. Ajak bicara dengan hal-hal yang menyenangkan misal, membicarakan hal-hal yang dilihat juga ditemui di jalan. Lakukan secara konsisten penanganan seperti iti maka perilaku “ngambek” di warung seperti tadi Insya Allah di masa mendatang tidak akan terulang lagi.
Pesan untuk diri sendiri : Ingat dirimu adalah calon Ibu untuk anak-anakmu kelak, keberhasilan mengasuh adalah konsisten. Semoga keberadaanmu senantiasa bermanfaat bagi orang lain. Aamiin ya Rab.. ^_^
Bungkus dan Isinya
Bungkus dan Isinya
Penilainan merupakan suatu proses penelaahan terhadap suatu objek atau sesuatu secara lengkap. Penilaian biasanya diawal dengan melihat pada suatu objek tersebut. Sebelum benar benar menelaah sesuatu yang dituju, tentu tampilan yang terlihat terlebih dahulu. Tampilan sering kali mengecoh kita saat menilai sesuatu. Tampilan yang menarik akan memikat juga memukau kesan yang pertama. Lain halnya dengan tampilan yang buruk memiliki nilai yang sebaliknya. Namun pernakah anda menelaah sesuatu yang buruk namun nilainya baik atau sebaliknya?. Kembali ke makna sebuah penilaian tersebut ialah suatu proses menelaah, artinya bukan hanya melalui visual dengan melihat sesuatu tersebut namun juga secara keseluruhan nilai itu dicari dari segi kuantitas dan kualitasnya. Menilai sesuatu hendaknya benar-benar menelaah secara terperinci. Bagaimana cara anda menilai sesuatu? Pernahkan anda menilai atau dinilai seseorang?
Bicara tentang penilaian saya punya pengalaman pribadi yang mungkin pengalaman ini sudah saya rasakan sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama(SMP). Tepatnya kejadian itu terjadi sekitar 9 tahun yang lalu, aku duduk di bangku kelas VII sebagai siswa baru. Saat penerimaan siswa baru tentu antara siswa satu dengan siswa yang lain ingin saling mengenal. Perkenalan tentu diawali oleh kesan pertama. Entah mengapa kesan pertama itu menjadi adat kebiasaan untuk melebelkan seseorang sebelum benar benar mengenal pribadinya. Kesan pertama inilah masalahku bemula dan terus berlangsung hingga saat ini, yaitu “wajahku”. Tidak tepat jika ini dikatakan sebuah masalah karena ini berkenaan dengan fitrah Allah yang diberikan kepada saya . Ada apa dengan wajahku ??? hee apa ada yang salah? Menurutku tidak ada yang salah dengan wajahku. Semua tercipta karena anugrah Allah. Saya bersyukur dengan segala nikmat-Nya dan nikmat yang mana lagi yang tidak kusyukuri serta bagaimana mungkin aku mengingkarinya . Namun apa yang menjadi pikiran dan argument ini terkadang tak sejalan dengan sebagian orang yang belum mengenalku dengan baik. Wajar … setiap orang memiliki hak untuk menilai. Awal dari kesan pertama inilah kemudian muncul statement “judes”, kata salah satu teman bangku SMPku.
Nah…….”masalahnya sekarang pada kesan pertama, kenapa acap kali saya dibilang judes?”apa yang salah dengan wajah saya?. Sedih…………….namun bagimana lagi ini anugrah dari Allah mustahil dirubah . Menaggapi itu semua spontan saja dengan senyuman berkata “Astagfirullah wal-Hamdulillah ” Dia menyela: pangangkahipun pripun? ? (lu ndak salah begitu bahasanya, karena teman saya kebetulan perempuan berasal dari Solo, Jawa Tengah saya tulis percakapannya sesuai yang ia katakan menurut bahasanya)
Saya jawab: Astagfirullah banyak yang memperhatikan saya ya Allah termasuk kamu hee wal hamdulillah artinya kamu tertarik mengenal kepribadiaan saya Gubrraaaak … gak nyambung memang heee,,. Mengapa saya katakan demikian..karena itulah rahasia teman-teman saya ingin mengenal saya . Saya selalu membiarkan penialaian ini sampai mereka mengenal betul pribadi saya seperti apa. Heee anggap saja itu hanya masalah bingkisan belum tentu isinya :)
Nasehat untuk diri sendiri : Belajar menilai isi sebelum melihat bungkusnya, , ,
Penilainan merupakan suatu proses penelaahan terhadap suatu objek atau sesuatu secara lengkap. Penilaian biasanya diawal dengan melihat pada suatu objek tersebut. Sebelum benar benar menelaah sesuatu yang dituju, tentu tampilan yang terlihat terlebih dahulu. Tampilan sering kali mengecoh kita saat menilai sesuatu. Tampilan yang menarik akan memikat juga memukau kesan yang pertama. Lain halnya dengan tampilan yang buruk memiliki nilai yang sebaliknya. Namun pernakah anda menelaah sesuatu yang buruk namun nilainya baik atau sebaliknya?. Kembali ke makna sebuah penilaian tersebut ialah suatu proses menelaah, artinya bukan hanya melalui visual dengan melihat sesuatu tersebut namun juga secara keseluruhan nilai itu dicari dari segi kuantitas dan kualitasnya. Menilai sesuatu hendaknya benar-benar menelaah secara terperinci. Bagaimana cara anda menilai sesuatu? Pernahkan anda menilai atau dinilai seseorang?
Bicara tentang penilaian saya punya pengalaman pribadi yang mungkin pengalaman ini sudah saya rasakan sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama(SMP). Tepatnya kejadian itu terjadi sekitar 9 tahun yang lalu, aku duduk di bangku kelas VII sebagai siswa baru. Saat penerimaan siswa baru tentu antara siswa satu dengan siswa yang lain ingin saling mengenal. Perkenalan tentu diawali oleh kesan pertama. Entah mengapa kesan pertama itu menjadi adat kebiasaan untuk melebelkan seseorang sebelum benar benar mengenal pribadinya. Kesan pertama inilah masalahku bemula dan terus berlangsung hingga saat ini, yaitu “wajahku”. Tidak tepat jika ini dikatakan sebuah masalah karena ini berkenaan dengan fitrah Allah yang diberikan kepada saya . Ada apa dengan wajahku ??? hee apa ada yang salah? Menurutku tidak ada yang salah dengan wajahku. Semua tercipta karena anugrah Allah. Saya bersyukur dengan segala nikmat-Nya dan nikmat yang mana lagi yang tidak kusyukuri serta bagaimana mungkin aku mengingkarinya . Namun apa yang menjadi pikiran dan argument ini terkadang tak sejalan dengan sebagian orang yang belum mengenalku dengan baik. Wajar … setiap orang memiliki hak untuk menilai. Awal dari kesan pertama inilah kemudian muncul statement “judes”, kata salah satu teman bangku SMPku.
Nah…….”masalahnya sekarang pada kesan pertama, kenapa acap kali saya dibilang judes?”apa yang salah dengan wajah saya?. Sedih…………….namun bagimana lagi ini anugrah dari Allah mustahil dirubah . Menaggapi itu semua spontan saja dengan senyuman berkata “Astagfirullah wal-Hamdulillah ” Dia menyela: pangangkahipun pripun? ? (lu ndak salah begitu bahasanya, karena teman saya kebetulan perempuan berasal dari Solo, Jawa Tengah saya tulis percakapannya sesuai yang ia katakan menurut bahasanya)
Saya jawab: Astagfirullah banyak yang memperhatikan saya ya Allah termasuk kamu hee wal hamdulillah artinya kamu tertarik mengenal kepribadiaan saya Gubrraaaak … gak nyambung memang heee,,. Mengapa saya katakan demikian..karena itulah rahasia teman-teman saya ingin mengenal saya . Saya selalu membiarkan penialaian ini sampai mereka mengenal betul pribadi saya seperti apa. Heee anggap saja itu hanya masalah bingkisan belum tentu isinya :)
Nasehat untuk diri sendiri : Belajar menilai isi sebelum melihat bungkusnya, , ,
Langganan:
Postingan (Atom)

