Selasa, 14 Februari 2017

Ulasanku Buku Balinesia


Ulasan Buku Balinesia Karya Dewi Purwati, dkk

Buku ini bercerita tentang berbagai kisah-kisah yang cukup asik dan unik, mulai dari ulasan informatif yang renyah untuk dibaca, sampai yang sedikit ilmiah dengan sentuhan analisis sekilas yang tidak membosankan. Bahkan hingga sarkasme yang kental dengan bahasa satir yang menggelitik pikiran kita. Tentu memori dan roman yang cukup romantis membuat buku ini cocok dibaca siapa saja. Khususnya bagi yang ingin berkunjung ke Bali.

Buku ini adalah cerita perjalanan para mahasiswa, dosen dan sekelumit kisahku saat mengunjungi pulau Dewata. Memang bagi sebagian orang, apalagi yang sudah pernah singgah ke Bali. Mungkin akan mengganggap buku ini tidak penting. Tetapi kami pastikan bahwa buku ini akan menjadi hiburan, informasi bahkan edukasi bagi yabg lain. Karena di dalamnya terdapat banyak kisah yang diwarnai berbagai corak dan ilustrasi tulisan yang cukup menggoda untuk dibaca. Di sisi lain, buku ini ditulis oleh beberapa mahasiswa sebagai sebuah larya kompilasi, yang tentunya akan berbeda satu sama lain dalam mengurai cerita berdasarkan hasil pengamatannya di Bali.

Selain itu, sebagai buku karya perdana Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam UIN Sunan Kalijaga, buku Balinesia membuktikan terwujudnya sebagai media usaha mahasiswa menuangkan ide dan melatih kreativitasnya dalam menulis. Hal ini sangat positif dilakukan mengingat tergerusnya kreativitas dan bakat menulis mahasiswa.

Buku Balinesia merupakan buku perjalanan yang tidak bersifat menggurui siapa pun (pembaca) melainkan agar semua pembaca dapat memetik serta menikmati hal-hal positif dari setiap perjalanan yang ada. Sesulit apapun rintangan akan begitu mudah dan indah bila di lewati dengan kekuatan cinta dan kebersamaan.

Part III Dari Jakarta Menuju Yogyakarta

Part III Dari Jakarta Menuju Yogyakarta
Dewi Purwati


Jangan Suka Pilih Pilih Calon Suami!
Pernikahan ialah sebuah ibadah bagi seseorang sebagai penyempurnaan agamanya. Bahkan kita juga pasti ingat, bahwa nabi menganjurkan setiap umatnya menikah, umat yang tidak mengikuti sunahnya maka bukan golongannya. Termasuk dalam hal pernikahan.

Malam itu, pak Rudi bercerita perihal keponakan perempuannya yang tak kunjung mau menikah. Sudah beberapa kali di pertemukan oleh anak sahabat dari kerabat kerebatannya, belum ada satupun pria yang cocok. Pernah pula ia di tawarkan berkenalan atau taaruf dengan seorang ustadz sekaligus penghafal Al-Quran, namun perjalannya kandas.
Usut punya usut, keluarga inti kemudian menanyai perihal ketidak cocokan yanh terjadi antara keduanya. Pada sisi sang ustadz tersebut tak ada alasan menolak taaruf, ia bahkam bersedia mendampingi si wanita.

Saat sisi wanita tersebut ditanyai, ada keragu raguan dirinya untuk menerima sang ustadz. Lantaran sang ustadz tersebut hanya pendidikan S1. Pekerjaannya hanya menghafal quran dan berceramah menurutnya. Sedangkan pendidikan sang wanita S2 di UI. Pekerjaannya ialah manager keuangan Bank Ternama di Jakarta. Atas perbedaan profesi dan pendidikan ini akhirnya sang wanita memutuskan untuk tidak meneruskan hubungan taaruf dengan si ustadz.

Pak Rudi menyayangkan sekali sikap dan pemikiran saudarinya tersebut. Sudah diperkenalkan dengan orang baik baik tapi pihak keluarga dan perempuan mengejar sesuatu yang bernilai duniawi. Rumitnya jika seorang wanita sudah berpendidikan tinggi, mapan profesinya cenderung memilih milih suami.
Masih ingatkah wanita diluaran sana yang telah mengejar kuliah S2 setingi tingginya, isudah menjadi wanita karir yang sukses hingga lupa menikah? Sibuk mencari calon suami yang sepadan. Lalu saat kesempatan Allah tiba, datang pria baik baik lantas ditolaknya lantaran alasan ini dan itu. Lantaran kurang ini dan itu. Akhirnya kebanyakan daripada mereka berujung menikah dengan sebarang orang. Yang sama mencari alasan ini dan itu, yang sibuk kurang ini kurang itu. Lantaran habis usia mudanya, naudzubillah terpaksa mencari siapa deh yang mau, meski pengangguran atau bahkan duda kaya anak lima, atau tidak menikah sama sekali.  (naudzubillah),

Maknai pernikahan bukan hanya sekedar menyambung keturunan. Akan tetapi ibadah. Pabila hal itu di pegang kuat kuat maka kebahagiaan dunia akhirat balasannya. Mustahil pernikahan tanpa diberi ujian kekurangan makanan, minuman, harta benda. Bukankah Allah sendiri yanf berkata bahwa engkau akan diuji oleh kekurangan2. Akankah kita masih tetap menjadi hamba yang syukur.

Yogyakarta 13 Februari 2017

Part II Dari Jakarta Menuju Yogyakarta

Part II Dari Jakarta Menuju Yogya
Dewi Purwati

Kali ini Pak Rudi bercerita tentang anaknya. Pak Rudi memiliki dua anak. Keduanya laki laki. Anak petama masih duduk di bangku SMP disalah satu SMP Negeri di Jakarta. Sedangkan anak kedua duduk dibangku Sekolah Dasar kls VI. Dalam dunia pendidikan, sang bapak turut ikut campur memperhatikan pergaulan, akademik dan perkembangan anak.

Saya tidak bisa menyerahkan tanggung jawab mendidik dan mengembangkan anak hanya pada istri saya mbak, itu kan anak anak saya to?  Saya yang sudah menitipkan mereka ke rahim istri saya, tuturnya.

Luaf biasa dalam hati saya mendengar ucapan seorang bapak seperti ini. Jika dulu teladan seorang suami seperti ini hanya saya baca di artikel artikel, saat ini saya betul betul bertemu langsung seorang bapak teladan secara tidak sengaja.

Singkat cerita. Anak ke2 pak Rudi enggan masuk sekolah. Keengganan anak tersebut tanpa di landasi oleh alasan yang jelas. Ditanya akan pelajaran yang terima sulit ternyata bukan. Ditanya tentang guru yang mengajar ternyata bukan. Ditanya tentang metode belajar yang cocok ternyata bukan juga.
Akhirnya Pak Rudi meminta sang anak jujur dan terus terang. Diberinya waktu sang anak jalan jalan berdua dengan sang bapak. Saat itu mulailah sang anak bercerita, bahwa dia sering di bully oleh teman sekelasnya.

Bullying di kalangan anak anak kerap terjadi. Berawal dari mengolok olok hingga menghina satu sama lain berujung saling dorong, pekelahian dan kematian. Dalam pergaulan anak anak yang  menjadi salah satu korban bullying bisa terkena dampak psikologi. Mula mula ia akan mulai merasa takut, kemudian menghindar dan tidak mau melakukan aktivitas. Sebab judge diri negatif yang ada padanya menekan serta melemahkan keberaniannya. Anak mudah terpojok dan merasa tidak berdaya.

Banyak contohnya,  masih ingat kisah seorang anak yang habis habisan di bully teman temannya. Ia akhirnya pindah kota dan pindah sekolah? Setelah pindah sekolah, sang anak masih di bully di kota yang baru oleh teman temannya. Sang anak akhirnya terganggu psikologinya, tidak gairah makan hingga berakhir pada kematian.

Mendidik anak memang tidaklah mudah.  Mendidik bukan hanya sebatas menyekolahkan anak cukup. Bukan. Mendidik juga harus menyentuh aspek pendidikan psikologinya dan spiritualitasnya. Bimbingan keagamaan (spiritual) akan membuat anak menjadi berani, karena ada Allah bersamanya. Bimbingan psikologi akan membuat anak belajar mengelola emosi, karena ada keseimbangan harmoni jiwa dan kepribadianya. Mendidik secara akademik saja adalah sebuah kegagalan. Karena itu sama hal nya orang tua mendidik anak menjadi robot. Lihatlah bagaimana robot?

Robot itu hanya pandai dan hanya bisa bekerja. Ia tidak punya jiwa apalagi nilai nilai yang mengikat. Begitu halnya anak, ia hanya pandai dan bekerja tapi miskin pengelolaan emosi dan akhlakul karimah.

Lantas bagaiman dengan anak Pak Rudi tadi? Ia dibekali amalan ayat kursi oleh Pak Rudi. Keyakinannya di tanamkan menembus dasar hatinya. Bahwa penjagaan yang sehebat hebatnya penjagaan ialah Penjagaan ALLAH. Tidak ada yang ditakuti kecuali Allah. Tidak akan sendiri jika yakin Allah bersama kita.

Masih ingatkan? Bukankah Allah bersama hambaNya yang selalu mengingatNya. Barang siapa membaca ayat Al-Kursi apabila berbaring di tempat tidurnya, Allah mewakilkan 2 orang Malaikat memeliharanya hingga subuh. Sebagaimana halnya orang yang selalu membaca ayat Kursi dicintai dan dipelihara Allah sebagaimana DIA memelihara Nabi Muhammad. Mereka yang beramal dengan bacaan ayat Kursi akan mendapat pertolongan serta perlindungan Allah daripada gangguan serta hasutan syaitan.

Yogyakarta, 12 Februari 2017

Part I Dari Jakarta Menuju Yogyakarta

Part I Dari Jakarta Menuju Yogja
Dewi Purwati

Kemarin Jumat 10 Februari 2017 aku meninggalkan kota Jakarta. Pada hari itu aku melakukan perjalan menuju Jogjakarta guna keperluan persiapan wisuda. Umumnya sebelum dilaksanakan wisuda ada beberapa rangkaian kegiatan yang dilakukan. Adapun kegiatan tersebut antara lain tasyakuran wisuda, pembekalan, latihan wisuda akbar, hingga acara penghujung yaitu Rapat Senat Terbuka Wisuda sendiri.

Untuk menuju kota istimewa semalam saya harus meroggoh kocek dengan membayar tiket bus lebih mahal dari biasanya dari agen tiket bud langganan keluarga. Sebab saat ini wilayah Jakarta tidak boleh dilintasi oleh bus antar provinsi sehingga siapapun yang hendak pergi ke luar kota akan dilansir dari agen pemesanan tiket menuju kota Bekasi dan Pulau Gebang. Sudah 1 bulan ini program pemerintah mengurangi tingkatnya kemacetan gencar dilaksanakan, salah satunya melarang bus bus besar antar provinsi masuk kota kota Jakarta.

Setibanya saya di agen pangkalan jati. Terlihat beberapa penumpang sedang menunggu untuk dilansir. Tiba giliranku bersama sepuluh orang rombongan lainnya menuju kota Bekasi. Di dalam perjalanan saya meliput seluruh keadaan jalan yang padat.

Akhirnya sampai di Bekasi Timur sebuah kota dimana bus yang akan mengantarkan kami menuju Jogjakarta telah menunggu. Segera para penumpang bergegas mencari pesanan seri bus dan tempat duduk masing masing. Saya memesan bus Maju Lancar, tujuan Jogja-Wonosari, seri bus "I" dengan nomer tempat duduk urutan ke 6. Akhirnya kutemukan bus sesuai dengan pesanan tiketku.

Tak lama kemudian, tempat duduk nomer 5 ditempati oleh seorang pria. Bus Maju Lancar jurusan Jakarta-Jogja ini selain Ac, juga didesign dengan 2 seat disayap kanan dan kiri. Artinya setiap penumpang akan bersebelahan dengan penumpang lainnya.

Pemesan tiket nomer 5 itupun akhirnya tiba dan duduk bersebelahan denganku. Beliau seorang pria yang usianya masuk kepala 5. Sayapun tersenyum dengan bapak itu.
Setelah selang nyaman dengan tempat duduknya. Beliau rupanya mudah sekali bergaul, tanpa sungkan beliau bertanya namaku dan tujuanku. Percakapanpun terjadi diantara kami saat itu. Beliau mulai bercerita tujuannya ke jogjakarta, pasalnya sang bapak hendak menghadiri acara reuni di UPN Yogyakarta. Sudah 35 tahun beliau tidak pernah ke Jogjakarta untuk memenuhi undangan reuni UPN, dan kali ini beliau memutuskan untuk hadir. Rupanya bapak yang bernama Rudi, tidak pernah hadir reuni 5 th sekali lantaran ia dan teman temannya terikat janji harus sukses, mapan dan pantas sebelum usia 50 th.

Singkat cerita, pak Rudi di usianya yang ke 50 th. Kesuksesan telah diraih, istri yang setia sudah bersamanya, serta anak anak yang baik sudah melengkapi hidupnya. Semua itu berkat giiat berusaha. Hidup di Jakarta memang pahit, tidaklah mudah. Tapi rupanya pak Rudi mengaku terlambat sukses. Kesuksesannya mulai meningkat manakala ia begitu dekat dengan Allah dan sunnatullah.

Saya bisa seperti ini bukan karena usaha saya, akan tetapi lantaran pertolongan Tuhan. Saya benar benar menyesal kenapa tidak dari dulu saya berpengangan dengan Al Quran dan As Sunnah, begitu tuturnya.

Saat itu, saya berusaha menjadi penyimak dan pendengar yang baik ketika beliau bercerita. Pak Rudi mengalami keajaiban demi keajaiban kecil dari hebatnya sebuah amalan shalawat nabi yang di istiqmahkan. Kesuksesan demi kesuksesan diperolah. Sesungguhnya dekatnya hamba pada Allah juga mendekatkannya pada kesusksesan dunia akhirat.

Keistimewaan shalawat kepada nabi begitu dasyat. Kita belum akan percaya apabila tidak mengamalkannya sendiri. Dikatakan bahwa Allah sendiri dan malaikat-malaikat Allah bershalawat  (memohon kesejahteraan) untuk nabi. Sebagaimana yang tertuang dalam surat Al-Ahzab : 56

ان الله و ملائكته يصلون على النبي يايها الذين امنوا صلوا عليه و سلم تسليما

Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat (memohon kesejahteraan) untuk nabi. Hai orang orang beriman, bershalawatlah kamu sekalian dan bersalamlah untuknya. (Al-ahzab : 56)

Masih ingat kan? Bagaimana ustadz Yusuf Mansyur mampu naik haji juga menyelamatkan pondok dari kebakaran hebat. Rahasianya hanya 1 amalan shalawat nabi. Beliau setiap hari mengamalkan ratusan hingga ribuan shalawat nabi. Sehingga Allah lebarkan kesempitannya, Allah mudahkan kesulitannya. Tiada yang mustahil jika ALLAH telah berkendak, maka terjadilah. (Kun Fayakun)

Yogyakarta, 12 Februari 2017