Selasa, 14 Februari 2017

Part II Dari Jakarta Menuju Yogyakarta

Part II Dari Jakarta Menuju Yogya
Dewi Purwati

Kali ini Pak Rudi bercerita tentang anaknya. Pak Rudi memiliki dua anak. Keduanya laki laki. Anak petama masih duduk di bangku SMP disalah satu SMP Negeri di Jakarta. Sedangkan anak kedua duduk dibangku Sekolah Dasar kls VI. Dalam dunia pendidikan, sang bapak turut ikut campur memperhatikan pergaulan, akademik dan perkembangan anak.

Saya tidak bisa menyerahkan tanggung jawab mendidik dan mengembangkan anak hanya pada istri saya mbak, itu kan anak anak saya to?  Saya yang sudah menitipkan mereka ke rahim istri saya, tuturnya.

Luaf biasa dalam hati saya mendengar ucapan seorang bapak seperti ini. Jika dulu teladan seorang suami seperti ini hanya saya baca di artikel artikel, saat ini saya betul betul bertemu langsung seorang bapak teladan secara tidak sengaja.

Singkat cerita. Anak ke2 pak Rudi enggan masuk sekolah. Keengganan anak tersebut tanpa di landasi oleh alasan yang jelas. Ditanya akan pelajaran yang terima sulit ternyata bukan. Ditanya tentang guru yang mengajar ternyata bukan. Ditanya tentang metode belajar yang cocok ternyata bukan juga.
Akhirnya Pak Rudi meminta sang anak jujur dan terus terang. Diberinya waktu sang anak jalan jalan berdua dengan sang bapak. Saat itu mulailah sang anak bercerita, bahwa dia sering di bully oleh teman sekelasnya.

Bullying di kalangan anak anak kerap terjadi. Berawal dari mengolok olok hingga menghina satu sama lain berujung saling dorong, pekelahian dan kematian. Dalam pergaulan anak anak yang  menjadi salah satu korban bullying bisa terkena dampak psikologi. Mula mula ia akan mulai merasa takut, kemudian menghindar dan tidak mau melakukan aktivitas. Sebab judge diri negatif yang ada padanya menekan serta melemahkan keberaniannya. Anak mudah terpojok dan merasa tidak berdaya.

Banyak contohnya,  masih ingat kisah seorang anak yang habis habisan di bully teman temannya. Ia akhirnya pindah kota dan pindah sekolah? Setelah pindah sekolah, sang anak masih di bully di kota yang baru oleh teman temannya. Sang anak akhirnya terganggu psikologinya, tidak gairah makan hingga berakhir pada kematian.

Mendidik anak memang tidaklah mudah.  Mendidik bukan hanya sebatas menyekolahkan anak cukup. Bukan. Mendidik juga harus menyentuh aspek pendidikan psikologinya dan spiritualitasnya. Bimbingan keagamaan (spiritual) akan membuat anak menjadi berani, karena ada Allah bersamanya. Bimbingan psikologi akan membuat anak belajar mengelola emosi, karena ada keseimbangan harmoni jiwa dan kepribadianya. Mendidik secara akademik saja adalah sebuah kegagalan. Karena itu sama hal nya orang tua mendidik anak menjadi robot. Lihatlah bagaimana robot?

Robot itu hanya pandai dan hanya bisa bekerja. Ia tidak punya jiwa apalagi nilai nilai yang mengikat. Begitu halnya anak, ia hanya pandai dan bekerja tapi miskin pengelolaan emosi dan akhlakul karimah.

Lantas bagaiman dengan anak Pak Rudi tadi? Ia dibekali amalan ayat kursi oleh Pak Rudi. Keyakinannya di tanamkan menembus dasar hatinya. Bahwa penjagaan yang sehebat hebatnya penjagaan ialah Penjagaan ALLAH. Tidak ada yang ditakuti kecuali Allah. Tidak akan sendiri jika yakin Allah bersama kita.

Masih ingatkan? Bukankah Allah bersama hambaNya yang selalu mengingatNya. Barang siapa membaca ayat Al-Kursi apabila berbaring di tempat tidurnya, Allah mewakilkan 2 orang Malaikat memeliharanya hingga subuh. Sebagaimana halnya orang yang selalu membaca ayat Kursi dicintai dan dipelihara Allah sebagaimana DIA memelihara Nabi Muhammad. Mereka yang beramal dengan bacaan ayat Kursi akan mendapat pertolongan serta perlindungan Allah daripada gangguan serta hasutan syaitan.

Yogyakarta, 12 Februari 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar