Selasa, 14 Februari 2017

Ulasanku Buku Balinesia


Ulasan Buku Balinesia Karya Dewi Purwati, dkk

Buku ini bercerita tentang berbagai kisah-kisah yang cukup asik dan unik, mulai dari ulasan informatif yang renyah untuk dibaca, sampai yang sedikit ilmiah dengan sentuhan analisis sekilas yang tidak membosankan. Bahkan hingga sarkasme yang kental dengan bahasa satir yang menggelitik pikiran kita. Tentu memori dan roman yang cukup romantis membuat buku ini cocok dibaca siapa saja. Khususnya bagi yang ingin berkunjung ke Bali.

Buku ini adalah cerita perjalanan para mahasiswa, dosen dan sekelumit kisahku saat mengunjungi pulau Dewata. Memang bagi sebagian orang, apalagi yang sudah pernah singgah ke Bali. Mungkin akan mengganggap buku ini tidak penting. Tetapi kami pastikan bahwa buku ini akan menjadi hiburan, informasi bahkan edukasi bagi yabg lain. Karena di dalamnya terdapat banyak kisah yang diwarnai berbagai corak dan ilustrasi tulisan yang cukup menggoda untuk dibaca. Di sisi lain, buku ini ditulis oleh beberapa mahasiswa sebagai sebuah larya kompilasi, yang tentunya akan berbeda satu sama lain dalam mengurai cerita berdasarkan hasil pengamatannya di Bali.

Selain itu, sebagai buku karya perdana Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam UIN Sunan Kalijaga, buku Balinesia membuktikan terwujudnya sebagai media usaha mahasiswa menuangkan ide dan melatih kreativitasnya dalam menulis. Hal ini sangat positif dilakukan mengingat tergerusnya kreativitas dan bakat menulis mahasiswa.

Buku Balinesia merupakan buku perjalanan yang tidak bersifat menggurui siapa pun (pembaca) melainkan agar semua pembaca dapat memetik serta menikmati hal-hal positif dari setiap perjalanan yang ada. Sesulit apapun rintangan akan begitu mudah dan indah bila di lewati dengan kekuatan cinta dan kebersamaan.

Part III Dari Jakarta Menuju Yogyakarta

Part III Dari Jakarta Menuju Yogyakarta
Dewi Purwati


Jangan Suka Pilih Pilih Calon Suami!
Pernikahan ialah sebuah ibadah bagi seseorang sebagai penyempurnaan agamanya. Bahkan kita juga pasti ingat, bahwa nabi menganjurkan setiap umatnya menikah, umat yang tidak mengikuti sunahnya maka bukan golongannya. Termasuk dalam hal pernikahan.

Malam itu, pak Rudi bercerita perihal keponakan perempuannya yang tak kunjung mau menikah. Sudah beberapa kali di pertemukan oleh anak sahabat dari kerabat kerebatannya, belum ada satupun pria yang cocok. Pernah pula ia di tawarkan berkenalan atau taaruf dengan seorang ustadz sekaligus penghafal Al-Quran, namun perjalannya kandas.
Usut punya usut, keluarga inti kemudian menanyai perihal ketidak cocokan yanh terjadi antara keduanya. Pada sisi sang ustadz tersebut tak ada alasan menolak taaruf, ia bahkam bersedia mendampingi si wanita.

Saat sisi wanita tersebut ditanyai, ada keragu raguan dirinya untuk menerima sang ustadz. Lantaran sang ustadz tersebut hanya pendidikan S1. Pekerjaannya hanya menghafal quran dan berceramah menurutnya. Sedangkan pendidikan sang wanita S2 di UI. Pekerjaannya ialah manager keuangan Bank Ternama di Jakarta. Atas perbedaan profesi dan pendidikan ini akhirnya sang wanita memutuskan untuk tidak meneruskan hubungan taaruf dengan si ustadz.

Pak Rudi menyayangkan sekali sikap dan pemikiran saudarinya tersebut. Sudah diperkenalkan dengan orang baik baik tapi pihak keluarga dan perempuan mengejar sesuatu yang bernilai duniawi. Rumitnya jika seorang wanita sudah berpendidikan tinggi, mapan profesinya cenderung memilih milih suami.
Masih ingatkah wanita diluaran sana yang telah mengejar kuliah S2 setingi tingginya, isudah menjadi wanita karir yang sukses hingga lupa menikah? Sibuk mencari calon suami yang sepadan. Lalu saat kesempatan Allah tiba, datang pria baik baik lantas ditolaknya lantaran alasan ini dan itu. Lantaran kurang ini dan itu. Akhirnya kebanyakan daripada mereka berujung menikah dengan sebarang orang. Yang sama mencari alasan ini dan itu, yang sibuk kurang ini kurang itu. Lantaran habis usia mudanya, naudzubillah terpaksa mencari siapa deh yang mau, meski pengangguran atau bahkan duda kaya anak lima, atau tidak menikah sama sekali.  (naudzubillah),

Maknai pernikahan bukan hanya sekedar menyambung keturunan. Akan tetapi ibadah. Pabila hal itu di pegang kuat kuat maka kebahagiaan dunia akhirat balasannya. Mustahil pernikahan tanpa diberi ujian kekurangan makanan, minuman, harta benda. Bukankah Allah sendiri yanf berkata bahwa engkau akan diuji oleh kekurangan2. Akankah kita masih tetap menjadi hamba yang syukur.

Yogyakarta 13 Februari 2017

Part II Dari Jakarta Menuju Yogyakarta

Part II Dari Jakarta Menuju Yogya
Dewi Purwati

Kali ini Pak Rudi bercerita tentang anaknya. Pak Rudi memiliki dua anak. Keduanya laki laki. Anak petama masih duduk di bangku SMP disalah satu SMP Negeri di Jakarta. Sedangkan anak kedua duduk dibangku Sekolah Dasar kls VI. Dalam dunia pendidikan, sang bapak turut ikut campur memperhatikan pergaulan, akademik dan perkembangan anak.

Saya tidak bisa menyerahkan tanggung jawab mendidik dan mengembangkan anak hanya pada istri saya mbak, itu kan anak anak saya to?  Saya yang sudah menitipkan mereka ke rahim istri saya, tuturnya.

Luaf biasa dalam hati saya mendengar ucapan seorang bapak seperti ini. Jika dulu teladan seorang suami seperti ini hanya saya baca di artikel artikel, saat ini saya betul betul bertemu langsung seorang bapak teladan secara tidak sengaja.

Singkat cerita. Anak ke2 pak Rudi enggan masuk sekolah. Keengganan anak tersebut tanpa di landasi oleh alasan yang jelas. Ditanya akan pelajaran yang terima sulit ternyata bukan. Ditanya tentang guru yang mengajar ternyata bukan. Ditanya tentang metode belajar yang cocok ternyata bukan juga.
Akhirnya Pak Rudi meminta sang anak jujur dan terus terang. Diberinya waktu sang anak jalan jalan berdua dengan sang bapak. Saat itu mulailah sang anak bercerita, bahwa dia sering di bully oleh teman sekelasnya.

Bullying di kalangan anak anak kerap terjadi. Berawal dari mengolok olok hingga menghina satu sama lain berujung saling dorong, pekelahian dan kematian. Dalam pergaulan anak anak yang  menjadi salah satu korban bullying bisa terkena dampak psikologi. Mula mula ia akan mulai merasa takut, kemudian menghindar dan tidak mau melakukan aktivitas. Sebab judge diri negatif yang ada padanya menekan serta melemahkan keberaniannya. Anak mudah terpojok dan merasa tidak berdaya.

Banyak contohnya,  masih ingat kisah seorang anak yang habis habisan di bully teman temannya. Ia akhirnya pindah kota dan pindah sekolah? Setelah pindah sekolah, sang anak masih di bully di kota yang baru oleh teman temannya. Sang anak akhirnya terganggu psikologinya, tidak gairah makan hingga berakhir pada kematian.

Mendidik anak memang tidaklah mudah.  Mendidik bukan hanya sebatas menyekolahkan anak cukup. Bukan. Mendidik juga harus menyentuh aspek pendidikan psikologinya dan spiritualitasnya. Bimbingan keagamaan (spiritual) akan membuat anak menjadi berani, karena ada Allah bersamanya. Bimbingan psikologi akan membuat anak belajar mengelola emosi, karena ada keseimbangan harmoni jiwa dan kepribadianya. Mendidik secara akademik saja adalah sebuah kegagalan. Karena itu sama hal nya orang tua mendidik anak menjadi robot. Lihatlah bagaimana robot?

Robot itu hanya pandai dan hanya bisa bekerja. Ia tidak punya jiwa apalagi nilai nilai yang mengikat. Begitu halnya anak, ia hanya pandai dan bekerja tapi miskin pengelolaan emosi dan akhlakul karimah.

Lantas bagaiman dengan anak Pak Rudi tadi? Ia dibekali amalan ayat kursi oleh Pak Rudi. Keyakinannya di tanamkan menembus dasar hatinya. Bahwa penjagaan yang sehebat hebatnya penjagaan ialah Penjagaan ALLAH. Tidak ada yang ditakuti kecuali Allah. Tidak akan sendiri jika yakin Allah bersama kita.

Masih ingatkan? Bukankah Allah bersama hambaNya yang selalu mengingatNya. Barang siapa membaca ayat Al-Kursi apabila berbaring di tempat tidurnya, Allah mewakilkan 2 orang Malaikat memeliharanya hingga subuh. Sebagaimana halnya orang yang selalu membaca ayat Kursi dicintai dan dipelihara Allah sebagaimana DIA memelihara Nabi Muhammad. Mereka yang beramal dengan bacaan ayat Kursi akan mendapat pertolongan serta perlindungan Allah daripada gangguan serta hasutan syaitan.

Yogyakarta, 12 Februari 2017

Part I Dari Jakarta Menuju Yogyakarta

Part I Dari Jakarta Menuju Yogja
Dewi Purwati

Kemarin Jumat 10 Februari 2017 aku meninggalkan kota Jakarta. Pada hari itu aku melakukan perjalan menuju Jogjakarta guna keperluan persiapan wisuda. Umumnya sebelum dilaksanakan wisuda ada beberapa rangkaian kegiatan yang dilakukan. Adapun kegiatan tersebut antara lain tasyakuran wisuda, pembekalan, latihan wisuda akbar, hingga acara penghujung yaitu Rapat Senat Terbuka Wisuda sendiri.

Untuk menuju kota istimewa semalam saya harus meroggoh kocek dengan membayar tiket bus lebih mahal dari biasanya dari agen tiket bud langganan keluarga. Sebab saat ini wilayah Jakarta tidak boleh dilintasi oleh bus antar provinsi sehingga siapapun yang hendak pergi ke luar kota akan dilansir dari agen pemesanan tiket menuju kota Bekasi dan Pulau Gebang. Sudah 1 bulan ini program pemerintah mengurangi tingkatnya kemacetan gencar dilaksanakan, salah satunya melarang bus bus besar antar provinsi masuk kota kota Jakarta.

Setibanya saya di agen pangkalan jati. Terlihat beberapa penumpang sedang menunggu untuk dilansir. Tiba giliranku bersama sepuluh orang rombongan lainnya menuju kota Bekasi. Di dalam perjalanan saya meliput seluruh keadaan jalan yang padat.

Akhirnya sampai di Bekasi Timur sebuah kota dimana bus yang akan mengantarkan kami menuju Jogjakarta telah menunggu. Segera para penumpang bergegas mencari pesanan seri bus dan tempat duduk masing masing. Saya memesan bus Maju Lancar, tujuan Jogja-Wonosari, seri bus "I" dengan nomer tempat duduk urutan ke 6. Akhirnya kutemukan bus sesuai dengan pesanan tiketku.

Tak lama kemudian, tempat duduk nomer 5 ditempati oleh seorang pria. Bus Maju Lancar jurusan Jakarta-Jogja ini selain Ac, juga didesign dengan 2 seat disayap kanan dan kiri. Artinya setiap penumpang akan bersebelahan dengan penumpang lainnya.

Pemesan tiket nomer 5 itupun akhirnya tiba dan duduk bersebelahan denganku. Beliau seorang pria yang usianya masuk kepala 5. Sayapun tersenyum dengan bapak itu.
Setelah selang nyaman dengan tempat duduknya. Beliau rupanya mudah sekali bergaul, tanpa sungkan beliau bertanya namaku dan tujuanku. Percakapanpun terjadi diantara kami saat itu. Beliau mulai bercerita tujuannya ke jogjakarta, pasalnya sang bapak hendak menghadiri acara reuni di UPN Yogyakarta. Sudah 35 tahun beliau tidak pernah ke Jogjakarta untuk memenuhi undangan reuni UPN, dan kali ini beliau memutuskan untuk hadir. Rupanya bapak yang bernama Rudi, tidak pernah hadir reuni 5 th sekali lantaran ia dan teman temannya terikat janji harus sukses, mapan dan pantas sebelum usia 50 th.

Singkat cerita, pak Rudi di usianya yang ke 50 th. Kesuksesan telah diraih, istri yang setia sudah bersamanya, serta anak anak yang baik sudah melengkapi hidupnya. Semua itu berkat giiat berusaha. Hidup di Jakarta memang pahit, tidaklah mudah. Tapi rupanya pak Rudi mengaku terlambat sukses. Kesuksesannya mulai meningkat manakala ia begitu dekat dengan Allah dan sunnatullah.

Saya bisa seperti ini bukan karena usaha saya, akan tetapi lantaran pertolongan Tuhan. Saya benar benar menyesal kenapa tidak dari dulu saya berpengangan dengan Al Quran dan As Sunnah, begitu tuturnya.

Saat itu, saya berusaha menjadi penyimak dan pendengar yang baik ketika beliau bercerita. Pak Rudi mengalami keajaiban demi keajaiban kecil dari hebatnya sebuah amalan shalawat nabi yang di istiqmahkan. Kesuksesan demi kesuksesan diperolah. Sesungguhnya dekatnya hamba pada Allah juga mendekatkannya pada kesusksesan dunia akhirat.

Keistimewaan shalawat kepada nabi begitu dasyat. Kita belum akan percaya apabila tidak mengamalkannya sendiri. Dikatakan bahwa Allah sendiri dan malaikat-malaikat Allah bershalawat  (memohon kesejahteraan) untuk nabi. Sebagaimana yang tertuang dalam surat Al-Ahzab : 56

ان الله و ملائكته يصلون على النبي يايها الذين امنوا صلوا عليه و سلم تسليما

Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat (memohon kesejahteraan) untuk nabi. Hai orang orang beriman, bershalawatlah kamu sekalian dan bersalamlah untuknya. (Al-ahzab : 56)

Masih ingat kan? Bagaimana ustadz Yusuf Mansyur mampu naik haji juga menyelamatkan pondok dari kebakaran hebat. Rahasianya hanya 1 amalan shalawat nabi. Beliau setiap hari mengamalkan ratusan hingga ribuan shalawat nabi. Sehingga Allah lebarkan kesempitannya, Allah mudahkan kesulitannya. Tiada yang mustahil jika ALLAH telah berkendak, maka terjadilah. (Kun Fayakun)

Yogyakarta, 12 Februari 2017

Jumat, 20 Januari 2017

Bangle

Perspektif Positif Terhadap Bangle

Sejak dua hari lalu, keponakanku menangis tiada henti selepas adzan magrib. Keponakanku masih berusia 53 hari. Ia seorang bayi laki laki yang amat lucu dan menggemaskan. Biasanya bayi menangis sebagai tanda isyarat lapar, haus, pup (BAB), pipis, kecapekan, dan sakit. Kemarin malam tepatnya, sang bayi menangis tiada henti. Padahal sudah dikasih asi, digendong sudah, diayun-ayun dan dipuk-puk sudah, bahkan dipijat ke tukang urut pun sudah. Tapi sang bayi tetap masih menangis. Tentu kejadian semacam ini membuat keluarga kami panik. Lalu salah satu dari saudara keluarga kami mengaitkannya dengan bangle. Mungkin saja sang bayi kelelahan atau sakit. Sehingga menangis terus menerus. Selain itu, menurut kepercayaan orang jawa bayi dilarang keluar selepas atau saat berkumandang waktu magrib agar tidak mendapatkan gangguan makhluk halus sehingga bangle dipercaya untuk menjaga. Kebetulan sang ibu pernah mengajak sang bayi keluar dan pulang hampir mendekati waktu adzan magrib.

Secara ilmiah alasan ghaib semacam ini memang tidaklah pernah bisa dibuktikan. Sedangkan dalam Al-Quran umat islam diperintahkan untuk tidak meragukan (memungkiri) hal hal yang ghaib itu ada. Bahkan hal tersebut sangat terang dijelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 1-5 bahwasannya salah satu tanda orang yang beriman ialah percaya pada sesuatu hal yang ghaib.
Ketika bayi menangis kemudian berhenti saat disandingkan tanaman bangle di sisi tempat tidurnya, kemudian percaya bahwa bangle tersebut adalah yang menolong. Tindakan demikian itu yang tidak dibenarkan.Tiadalah mungkin tanaman berkhasiat tanpa kemurahan pertolongan Allah.

Bangle bisa dibeli di pasar tradisional dan murah harganya. Bangle mempunyai nama Latin Zingiber cassumunar Roxb. Oleh masyarakat Indonesia biasa dipakai sebagai penangkal energi jahat untuk ibu hamil dan bayi yang baru lahir. Umbi yang wangi ini juga mampu melangsingkan tubuh, meredakan demam, migrain, sakit kuning, cacingan, bahkan nyeri sendi Bangle tumbuh di Asia Selatan, dari India hingga Indonesia. Kalau di Jawa, bangle ini disebut unin makei ditanam di lahan yang cukup mendapat sinar matahari. Pada tanah yang becek, pertumbuhannya akan terganggu dan rimpangnya cepat busuk.
Tinggi tanamannya sekitar 1-1,5 meter, membentuk rumpun yang padat. Helaian daun berbentuk lonjong, tipis, ujung runcing, pangkal tumpul, tepi rata, berambut halus, pertulangan menyirip, panjang 23-35 cm, lebar 20-40 mm. Rimpang bangle menjalar dan berdaging, bentuknya hampir bundar sampai jorong atau tidak beraturan, tebalnya 2-5 mm. Permukaan luar tidak rata, berkerut, kadang dengan parut daun, warnanya coklat muda kekuningan, bila dibelah berwarna kuning muda sampai kecoklatan. Rasanya pedas dan pahit.

Bangle mengandung zat-zat kimia berupa sineol, pinen dan seskuitterpen. Rimpang tanaman ini juga mengandung mineral, albuminoid, lemak, getah yang pahit, dan asam-asam organik. Rimpang tanaman ini punya banyak khasiat. Bangle mengandung asam organik yang berkhasiat diantaranya : mengurangi lemak tubuh. Selain itu, air rebusan bangle bersifat hangat dan melapisi dinding usus.

Efek rimpang ini adalah penurun panas, peluruh kentut, peluruh dahak, pembersih darah, pencahar, dan obat cacing. Khasiat rimpang bangle bisa, untuk obat asma dan rematik. Khasiat lainnya, daunnya berguna untuk perangsang nafsu makan. Selain itu untuk obat sakit perut karena berkhasiat membersihkan darah dan sebagai peluruh kentut.

Manfaatkan bangle untuk kerokan ketika bayi susah tidur dan rewel. Caranya, parutan rimpang bangle dibalurkan ke punggung bayi sambil diusap-usap dan ditekan Resep bangle juga untuk gangguan sakit saat buang air kecil.

Air rendaman bangle juga bisa dimanfaatkan untuk mengobati sakit perut karena sifatnya hangat seperti jahe. Setelah melahirkan borehkan parutan bangle di perut gunanya untuk mengecilkan perut sehabis melahirkan.
Manfaat untuk penyakit  lainnya :

Sembuhkan Rematik.
Bangle dikompres pada tempat yang sakit. Dan Kompresan minum air rebusan bangle selama 6 bulan. Caranya Rimpang segar secukupnya dicuci lalu diparut, tambahkan arak sampai menjadi adonan seperti bubur encer. Borehkan ke bagian sendi yang sakit

Hepatitis A.
Dianjurkan mengonsumsi ramuan bangle dicampur temulawak, air gula, dan madu.

Obat Masuk angin.
Ambil 15 g rimpang bangle segar cuci lalu parut. Tambahkan 1/2 cangkir air panas dan 2 sendok makan madu. Aduk merata lalu peras dan saring. Minum 2 kali sehari.

Perut Mules.
Ambil setengah jari tangan rimpang bangle, rimpang jahe, kencur dan lempuyang wangi, cuci bersih, lalu iris tipis-tipis. Rebus dengan 1 gelas air bersih sampai tersisa 1/2 gelas. Saring, minum ketika dingin.

Sakit Kepala.
Rimpang segar secukupnya dicuci bersih lalu diparut. Tambahkan sedikit air sampai menjadi adonan seperti bubur. Dipakai sebagai pilus pada dahi.

Sakit Kuning
Setengah jari rimpang bangle dicuci bersih lalu diparut. Tambahkan air masak dan madu masing-masing 1 sendok makan. Peras dan saring, lalu diminum. Lakukan 2 kali sehari.

Cacingan
Tiga jari rimpang bangle, 2 jari temu hitam, 5 biji ketumbar, dan 5 lembar tangkai daun sirih dicuci lalu diiris tipis-tipis kemudian ditumbuk halus. Tambahkan 1/2 cangkir air masak, aduk merata. Setelah diperas dan disaring, ramuan bisa diminum.

Mengurangi Lemak tubuh
Rimpang bangle dan rimpang temu hitam masing-masing 1/2 jari tangan, dicuci lalu diparut. Tambahkan 1 sendok makan air jeruk nipis dan 2 sendok makan madu, aduk merata sambil diremas-remas. Peras dan saring, minum. Lakukan 2-3 kali sehari.

Kamis, 27 Oktober 2016

PESONA KONFERENSI NASIONAL BKI UIN SUNAN KALIJAGA 2016 BERSAMA UIN SUNAN DRAJAT DAN SUNAN AMPEL


Oleh : Dewi Purwati
Dimoderatori oleh Muhsin Kalida M.A
Narasumber :  Agus Santosa M. Si (UIN Sunan Ampel Surabaya)
Sugandi Miharja M. Si (UIN Sunan Drajat Bandung)

Sebuah kalimat mempesona keluar dari pemandu konferensi nasional BKI di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pagi tadi 27/10/2016. Bahwa pertemuan konferensi ini laksana ijtihad mengulang sejarah yang dulu dilakukan oleh para auliya’ yakni berkumpul menyerap dan bertukar keilmuan. Layaknya sebuah pertemuan Sunan Kalijaga dengan para wali lain diantaranya sunan Drajat dan sunan Ampel, hari ini ketiga universitas islam seolah kembali merindukan pesona pertemuan keilmuan dengan hadirnya akademisi UIN Sunan Ampel dan UIN Sunan Drajat ke UIN Sunan Kalijaga.

Konferensi Nasional pagi tadi, Sugandi Miharja selaku narasumber pertama menawarkan pola konvensional yang diperbaruhui. Sugandi menawarkan sebuah konsep organisasi yaang diperbarui, dan penyempurnakan pola-pola BK yang telah ada. Karena menurut Sugandi, alurnya pada organising lebih penting dan harus tersusun lebih dulu. Sebab dalam organizing tedapat: Pertama, Pelaku, yakni orang-orang ahli (konselor) yang memiliki misi pribadi yang islami~ lebih jauh lagi, bagaimana dan apa yang ia pahami tentang ayat Qu’ran beserta Haditsnya. Kedua, Program. Sugandi mengacu kembali kepada SWOT. Dengan kesimpulan Dr. Sugandi menawarkan pola layanan yang baru yang disebut dengan Pola Penyempurnaan. Dimana pola tersebut berisi pola konvensional umum namun dikembangkan dan dikemas dengan muatan nilai kegamaan. Begitu pula pemaparan pola komprehensif (misalnya pada layanan dasar: cara etika, pereturan : tata krama saat orientasi siswa).

Berbeda dengan narasumber yang ke dua, Agus Santosa tidak banyak menawarkan kerangka konsep sebagaimana halnya Dr Sugandi paparkan. Dalam konferensi nasional tadi pagi, Dr. Agus melejitkan diri setiap audiencies kembali untuk menyadari dirinya. Ini yang ia katakan sebagai kekuatan penyadaran diri.

Secara singkat pemaran materi yang ditawarkan oleh Agus terkait dengan terapis penyadaran diri dengan teknik menulis. Hal ini sesuai dengan perintah Allah dalam surat Al-Alaq. Lalu kenapa kita tidak kemudian gunakan teknik menulis ini sebagai terapi penyadaran diri? Di dalam ayat tersebut –islami tepaut padu-

Uniknya, konferensi pagi tadi menimbulkan “Efek Domino” bagi audiences. Pasalnya kurang lebih enam peserta konferensi nasional siang tadi menulis hingga menangis dengan apa yang ia tuliskan.
Peserta itu mengaku tidak menyadari bahwa kuatnya ikatan emosi, hati, jiwa kita dengan nilai-nilai kebenaran agama, sehingga menulis mereka merasa terpesona dengan nuansa ketauahidan yang esa.

Salah satu untaian tulisan yang terekam dalam konfensi nasional pagi tadi sebagai berikut:
Menulis ialah aktivitas dimana kita mengungkapkan menuangkan pikiran yang ada dalam otak, jiwa dan persaan dalam bentuk rangkaian kata yang tersusun menjadi sebuah kalimat.

*      Aku ingin beristiqamah. Untuk itu aku bertirakat. Sebab tirakatmu menentukan masa depanmu kelak.
*      Ibu yang baik itu lebih mulia dari 100 guru pengajar. Didiklah dirimu dengan berpikir dan belajat. Didik hatimu dgn puasa, shalat malam dan )
*      Ujian kehidupanku merupakan kebesaran ujian keimananku
*      Saya tidak ada telaga dan memberi semangat yang lebih untuk bangga berada di BKI.
Konselor islami harus melihat konseli dari luar dan dari dalam. Konseling itu barang hikmah.


Diakhir sesi acara inti Agus Susanto menambahkan, dulu keilmuan-keilmuan islam telah dirampas dan diubah lalu kemudian dibawa dan diakui oleh orang-orang Barat. Setelah sampai di Barat dan kemudian dibawa kembali ke Timur. Seakan-akan ilmu itu salah lalu harus diubah dan kembali sesuai ilmu-ilmu Timur. Bukankah Tuhan pemilik seluruh wilayah Timur dan Barat, tegasnya. 

Rabu, 26 Oktober 2016

KONBIKI- (KONFERENSI NASIONAL) & FGD- (FOKUS GROUP DISCUSSION) BKI UIN SUNAN KALIJAGA 2016

KONBIKI-
KONFERENSI NASIONAL DAN FGD (FORUM GROUP DISCUSSION) BKI UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA



Rabu, 26 Oktober 2016 Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta melaksanakan sebuah hajat kegiatan. Sebuah Konferensi Nasional (KONBIKI) yang bertema “Merajut Konsep Manajemen  Pelayanan Bimbingan dan Konseling Islam dalam Berbagai Latar Kehidupan dan Manajemen Pelaksanaan Layanan Bimbingan dan Konseling Islam Sekolah dan Masyarakat” berlangsung penuh hikmat di gedung teatrikal Dakwah dan Komunikasi. Konferensi Nasional BKI tersebut rencananya akan dilaksanakan selama dua hari tanggal 26-27 Oktober 2016 bertempat di Kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Konferensi Nasional BKI (KONBIKI), dipandu oleh dua pembawa acara yang menyajikan 3 bahasa (Arab, Inggris dan Indonesia) membuat acara Konferensi Nasional pagi tadi berbeda. Ditambah pembacaan lantunan wahyu ilahi oleh Labibah qari’ah mahasiswa BKI 2015 meningkatkan pesona ketauhidan saat berlangsungya konferensi nasional.
Nailul Falah selaku ketua konfefensi nasional menyampaikan sambutan dan banyak terimakasih kepada narasumber dan guru bk se DIY selaku mitra BKI dalam partispasi dalam konferensi nasional. Dengan dua tema yang melejit dibidang masyarakat dan pendidikan. Selain itu Nailul Falah melaporkan peserta konferensi yang meliputi konselor dan guru BK/BKI se-DIY, konselor lembaga sosial se-DIY, alumni & pasca sarjana BKI UIN Sunan Kalijaga, serta peserta BKI UIN Sunan Ampel, BKI UIN Sunan Drajat Bandung, IAIN Tulungagung, IAIN Jember, dan suluruh mahasiswa HMPS UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Sambutan kedua disampaikan oleh A. Said Hasan Basri, M.Siselaku kaprodi BKI menyampaikan "kesyukuran yang besar selaku tuan rumah akhirnya berhasil menghimpun seluruh para akademis berkumpul dalam konferensi nasional BKI (KONBIKI) pagi tadi, Said juga merasa terharu atas besarnya antusias peserta dan undangan yang telah hadir dan berharap aktif dan partisipatif selama konferensi berlangsung"
Ada harapan yang digadang oleh BKI se-Indonesia bagi pengembangan Konseling Islam saat ini, meski muncul berbagai himpitan keputusan-keputusan Kementrian yang berubah setiap tahunnya. Tujuan konferensi nasional ini pertama, penyerapan dilapangan secara konsep keilmuan diwilayah barat (Bandung) dan timur (Surabaya) dari sunan ampel. Sehingga bettemu keputusan antara perpaduan konsep keilmuan barat dan timur . Harapannya semkin jelas profesinya di lapangan. Dari kombinasi dr wilayah barat timur dan jogja
Belum ada standar yg baku perumusan konseling islam yang baku dan membantu melahirkan kerangka konsep yang islam.

Konferensi Nasional BKI dibuka oleh sambutan Ibu Dr. Nurjannah M. SI, selaku Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunana Kalijaga membuka secara resmi sekaligus menyampaikan apresiasi yang sedalam-dalanya atas kinerja panitia atas terselenggaranya Konferensi tersebut. Dr. Nurjannah berharap adanya konferensi ini mampu mewadahi cita-cita BKI sehingga melahirkan dan  merumuskan konsep konsep awal Bimbingan dan Konseling Islam yang baku seperti apa.

Dr. Nurjannah juga menyampaikan hasil Assosiasi Bimbingan dan Konseling Islam se-Indonesia (ABKI) dilaksanakan dua minggu lalu di Pekan Baru dan Surabaya. Dalam assosiasi tersebut, setidaknya para akademis tahu, PR yang segera AKBI cukup berat, yaitu :
Pertama, segera merumuskan mata kuliah~tujuan itu untuk melegalkan rumusan
Kedua, perumusan kerangka konsep Bimbingan dan Konseling yang Islami” bukan sebatas konvensional. Artinya kerangka konsep yang digunakan bukan hanya mengkiblat pada teori-teori Barat, akan tetapi BKI sendiri sudahkah mengintregrasikan dan menginterkoneksikan teori Barat dengan Islam. Dr. Nurjannah menambahkan, bahwa sebetulnya ayat-ayat kauniah dan ayat ayat qauliyyah tidak akan bertentangan.

Tidak Instan memang, namun Dr. Nurjannah meyakini kedepan apabila konferensi dan Focus Group Discution ini terus dilakukan maka akan melahirkan sebuah temuan kerangka konsep BKI yang baku.