Kamis, 27 Oktober 2016

PESONA KONFERENSI NASIONAL BKI UIN SUNAN KALIJAGA 2016 BERSAMA UIN SUNAN DRAJAT DAN SUNAN AMPEL


Oleh : Dewi Purwati
Dimoderatori oleh Muhsin Kalida M.A
Narasumber :  Agus Santosa M. Si (UIN Sunan Ampel Surabaya)
Sugandi Miharja M. Si (UIN Sunan Drajat Bandung)

Sebuah kalimat mempesona keluar dari pemandu konferensi nasional BKI di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pagi tadi 27/10/2016. Bahwa pertemuan konferensi ini laksana ijtihad mengulang sejarah yang dulu dilakukan oleh para auliya’ yakni berkumpul menyerap dan bertukar keilmuan. Layaknya sebuah pertemuan Sunan Kalijaga dengan para wali lain diantaranya sunan Drajat dan sunan Ampel, hari ini ketiga universitas islam seolah kembali merindukan pesona pertemuan keilmuan dengan hadirnya akademisi UIN Sunan Ampel dan UIN Sunan Drajat ke UIN Sunan Kalijaga.

Konferensi Nasional pagi tadi, Sugandi Miharja selaku narasumber pertama menawarkan pola konvensional yang diperbaruhui. Sugandi menawarkan sebuah konsep organisasi yaang diperbarui, dan penyempurnakan pola-pola BK yang telah ada. Karena menurut Sugandi, alurnya pada organising lebih penting dan harus tersusun lebih dulu. Sebab dalam organizing tedapat: Pertama, Pelaku, yakni orang-orang ahli (konselor) yang memiliki misi pribadi yang islami~ lebih jauh lagi, bagaimana dan apa yang ia pahami tentang ayat Qu’ran beserta Haditsnya. Kedua, Program. Sugandi mengacu kembali kepada SWOT. Dengan kesimpulan Dr. Sugandi menawarkan pola layanan yang baru yang disebut dengan Pola Penyempurnaan. Dimana pola tersebut berisi pola konvensional umum namun dikembangkan dan dikemas dengan muatan nilai kegamaan. Begitu pula pemaparan pola komprehensif (misalnya pada layanan dasar: cara etika, pereturan : tata krama saat orientasi siswa).

Berbeda dengan narasumber yang ke dua, Agus Santosa tidak banyak menawarkan kerangka konsep sebagaimana halnya Dr Sugandi paparkan. Dalam konferensi nasional tadi pagi, Dr. Agus melejitkan diri setiap audiencies kembali untuk menyadari dirinya. Ini yang ia katakan sebagai kekuatan penyadaran diri.

Secara singkat pemaran materi yang ditawarkan oleh Agus terkait dengan terapis penyadaran diri dengan teknik menulis. Hal ini sesuai dengan perintah Allah dalam surat Al-Alaq. Lalu kenapa kita tidak kemudian gunakan teknik menulis ini sebagai terapi penyadaran diri? Di dalam ayat tersebut –islami tepaut padu-

Uniknya, konferensi pagi tadi menimbulkan “Efek Domino” bagi audiences. Pasalnya kurang lebih enam peserta konferensi nasional siang tadi menulis hingga menangis dengan apa yang ia tuliskan.
Peserta itu mengaku tidak menyadari bahwa kuatnya ikatan emosi, hati, jiwa kita dengan nilai-nilai kebenaran agama, sehingga menulis mereka merasa terpesona dengan nuansa ketauahidan yang esa.

Salah satu untaian tulisan yang terekam dalam konfensi nasional pagi tadi sebagai berikut:
Menulis ialah aktivitas dimana kita mengungkapkan menuangkan pikiran yang ada dalam otak, jiwa dan persaan dalam bentuk rangkaian kata yang tersusun menjadi sebuah kalimat.

*      Aku ingin beristiqamah. Untuk itu aku bertirakat. Sebab tirakatmu menentukan masa depanmu kelak.
*      Ibu yang baik itu lebih mulia dari 100 guru pengajar. Didiklah dirimu dengan berpikir dan belajat. Didik hatimu dgn puasa, shalat malam dan )
*      Ujian kehidupanku merupakan kebesaran ujian keimananku
*      Saya tidak ada telaga dan memberi semangat yang lebih untuk bangga berada di BKI.
Konselor islami harus melihat konseli dari luar dan dari dalam. Konseling itu barang hikmah.


Diakhir sesi acara inti Agus Susanto menambahkan, dulu keilmuan-keilmuan islam telah dirampas dan diubah lalu kemudian dibawa dan diakui oleh orang-orang Barat. Setelah sampai di Barat dan kemudian dibawa kembali ke Timur. Seakan-akan ilmu itu salah lalu harus diubah dan kembali sesuai ilmu-ilmu Timur. Bukankah Tuhan pemilik seluruh wilayah Timur dan Barat, tegasnya. 

Rabu, 26 Oktober 2016

KONBIKI- (KONFERENSI NASIONAL) & FGD- (FOKUS GROUP DISCUSSION) BKI UIN SUNAN KALIJAGA 2016

KONBIKI-
KONFERENSI NASIONAL DAN FGD (FORUM GROUP DISCUSSION) BKI UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA



Rabu, 26 Oktober 2016 Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta melaksanakan sebuah hajat kegiatan. Sebuah Konferensi Nasional (KONBIKI) yang bertema “Merajut Konsep Manajemen  Pelayanan Bimbingan dan Konseling Islam dalam Berbagai Latar Kehidupan dan Manajemen Pelaksanaan Layanan Bimbingan dan Konseling Islam Sekolah dan Masyarakat” berlangsung penuh hikmat di gedung teatrikal Dakwah dan Komunikasi. Konferensi Nasional BKI tersebut rencananya akan dilaksanakan selama dua hari tanggal 26-27 Oktober 2016 bertempat di Kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Konferensi Nasional BKI (KONBIKI), dipandu oleh dua pembawa acara yang menyajikan 3 bahasa (Arab, Inggris dan Indonesia) membuat acara Konferensi Nasional pagi tadi berbeda. Ditambah pembacaan lantunan wahyu ilahi oleh Labibah qari’ah mahasiswa BKI 2015 meningkatkan pesona ketauhidan saat berlangsungya konferensi nasional.
Nailul Falah selaku ketua konfefensi nasional menyampaikan sambutan dan banyak terimakasih kepada narasumber dan guru bk se DIY selaku mitra BKI dalam partispasi dalam konferensi nasional. Dengan dua tema yang melejit dibidang masyarakat dan pendidikan. Selain itu Nailul Falah melaporkan peserta konferensi yang meliputi konselor dan guru BK/BKI se-DIY, konselor lembaga sosial se-DIY, alumni & pasca sarjana BKI UIN Sunan Kalijaga, serta peserta BKI UIN Sunan Ampel, BKI UIN Sunan Drajat Bandung, IAIN Tulungagung, IAIN Jember, dan suluruh mahasiswa HMPS UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Sambutan kedua disampaikan oleh A. Said Hasan Basri, M.Siselaku kaprodi BKI menyampaikan "kesyukuran yang besar selaku tuan rumah akhirnya berhasil menghimpun seluruh para akademis berkumpul dalam konferensi nasional BKI (KONBIKI) pagi tadi, Said juga merasa terharu atas besarnya antusias peserta dan undangan yang telah hadir dan berharap aktif dan partisipatif selama konferensi berlangsung"
Ada harapan yang digadang oleh BKI se-Indonesia bagi pengembangan Konseling Islam saat ini, meski muncul berbagai himpitan keputusan-keputusan Kementrian yang berubah setiap tahunnya. Tujuan konferensi nasional ini pertama, penyerapan dilapangan secara konsep keilmuan diwilayah barat (Bandung) dan timur (Surabaya) dari sunan ampel. Sehingga bettemu keputusan antara perpaduan konsep keilmuan barat dan timur . Harapannya semkin jelas profesinya di lapangan. Dari kombinasi dr wilayah barat timur dan jogja
Belum ada standar yg baku perumusan konseling islam yang baku dan membantu melahirkan kerangka konsep yang islam.

Konferensi Nasional BKI dibuka oleh sambutan Ibu Dr. Nurjannah M. SI, selaku Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunana Kalijaga membuka secara resmi sekaligus menyampaikan apresiasi yang sedalam-dalanya atas kinerja panitia atas terselenggaranya Konferensi tersebut. Dr. Nurjannah berharap adanya konferensi ini mampu mewadahi cita-cita BKI sehingga melahirkan dan  merumuskan konsep konsep awal Bimbingan dan Konseling Islam yang baku seperti apa.

Dr. Nurjannah juga menyampaikan hasil Assosiasi Bimbingan dan Konseling Islam se-Indonesia (ABKI) dilaksanakan dua minggu lalu di Pekan Baru dan Surabaya. Dalam assosiasi tersebut, setidaknya para akademis tahu, PR yang segera AKBI cukup berat, yaitu :
Pertama, segera merumuskan mata kuliah~tujuan itu untuk melegalkan rumusan
Kedua, perumusan kerangka konsep Bimbingan dan Konseling yang Islami” bukan sebatas konvensional. Artinya kerangka konsep yang digunakan bukan hanya mengkiblat pada teori-teori Barat, akan tetapi BKI sendiri sudahkah mengintregrasikan dan menginterkoneksikan teori Barat dengan Islam. Dr. Nurjannah menambahkan, bahwa sebetulnya ayat-ayat kauniah dan ayat ayat qauliyyah tidak akan bertentangan.

Tidak Instan memang, namun Dr. Nurjannah meyakini kedepan apabila konferensi dan Focus Group Discution ini terus dilakukan maka akan melahirkan sebuah temuan kerangka konsep BKI yang baku.

Jumat, 16 September 2016

Efek Barnum (Efek Forer)



Catatan kali ini singkat, lahir berdasarkan pengalaman bersama adik-adik (pesdik)  memberikan pemahaman tentang efek barnum dan hubungannya dengan ramalan. Pasalnya selama hampir sebulan saya berburu pengalaman dunia pendidikan di salah satu Madrasah Rintisan Unggulan (RMU) di Yogyakarta. Saya kerap beberapa kali memergoki siswa asyik dan nampak hobbi membaca ramalan  di salah satu majalah mingguan langganan madrasah tersebut. Dan benar yang saya khawatirkan mereka memang percaya dengan ramalan-ramalan tersebut. Yang barang tentu hal-hal (semacam ramalan) itu bila terus di percaya oleh anak-anak, akan menumbuhkan sikap anak yang mudah pasrah dan terlalu mudah percaya dengan apa yang belum tentu terjadi.

Jangankan anak, sebagain orang dewasapun pernah kita jumpai. Akhir-akhir ini misalnya kita menjumpai ramalan-ramalan yang menjamur di sosial media (terutama facebook dan twitter). Entah itu sebuah ramalan berdasarkan zodiak, golongan darah, inisial nama, foto profil, bentuk tubuh, warna favorit dll. Semoga saja tidak ada yang aneh-aneh sampai meramal berdasarkan bau keringat.

Sebelum percaya mentah-mentah tentang apa saja yang diramalkan, ada baiknya kita mencari tahu dan memperbanyak dialog dengan ahli konseling dan psikologi. Hal yang menarik dibahas kali ini ialah efek barnum. Mungkin bagi kalangan akademisi (konselor dan psikolog) yang bergelut dalam keilmuan tersebut lumrah tentang menggunaan efek barnum ini.

Sebenarnya apa itu efek Barnum? Jadi begini, dalam dunia psikologi, Efek Barnum atau dikenal juga dengan nama Efek Forer merupakan teori yang berdasar pada observasi Phineas Taylor Barnum bahwa semua manusia memiliki beberapa kesamaan, yang kemudian dibuktikan melalui demonstrasi psikolog Amerika, Bertram R. Forer.

Efek Barnum sendiri merupakan sebuah manipulasi psikologis dimana variabel-variabel yang sebenarnya berlaku secara umum pada setiap orang dimanipulasi dalam cara agar kondisi tersebut terlihat seolah-olah berlaku khusus untuk orang tersebut secara pribadi.

Singkatnya, Efek Barnum adalah kecenderungan dimana orang-orang mengatakan suatu ramalan kepribadian mereka tepat, yang pada kenyataannya kepribadian tersebut tidaklah spesifik dan dapat diterapkan ke semua orang sehingga kata-katanya dirangkai sedemikian rupa sehingga terkesan khusus pada suatu golongan tertentu. Jadi misalnya suatu golongan tertentu merasa suatu ramalan tepat dan sangan mencerminkan sosoknya, namun nyatanya itu adalah kondisi umum dan dapat diterapkan di semua golongan. Contohnya begini,
#Libra Asmara : Untuk mempertahankan pasangan anda, cobalah lakukan komunikasi dengan frekuensi teratur dan sering”

Tunggu dulu? Pasti yang merasa zodiaknya Libra dalam hati akan berkata “Oh iya, bener banget. Aku harus ajak si dia komunikasi yang lebih sering”. Padahal, secara umum apapun zodiakmu, pasti memang seperti itu caranya mempertahankan hubungan. Contoh lain.

“Golongan darah O : anda adalah pribadi yang unik. Saat anda sedang berkumpul bersama dengan teman-teman atau keluarga anda dan tertawa bisa jadi dalam hati anda merasa sendiri. Terkadang anda berpikir bagaimana caranya agar dapat disukai dengan orang-orang di sekitar anda”.

Bagaimana? Jika bunyinya demikian, yang bergolongan darah O bisa jadi merasa ramalan tersebut cocok banget buat aku. Begitulah kira-kira contoh efek barnum.
Kembali ke sejarah awal bahwa efek barnum ini pernah diteliti oleh Prof. Forer pada tahun 1948. Awalnya Prof. Forer membagi 39 amplop tertutup pada 39 mahasiswanya, isinya tentang hasil tes kepribadian yang telah mereka lakukan seminggu sebelumnya. Tiap-tiap amplop semua isinya sama. Demontrasi isinya kurang lebih seperti ini :

“ Anda merasa perlu untuk disukai dan dikagumi orang lain, tapi pada saat yang sama anda juga cenderung kritis terhadap diri sendiri. Anda mempunyai kapasitas besar terpendam yang sebenarnya bisa anda kerahkan demi kesuksesan anda.Meski anda memiliki sisi lemah dalam kepribadian, tapi anda biasanya berhasil untuk mengkompensasinya. Dari luar anda terlihat sebagai seorang berdisiplin dan percaya diri, namun di dalam anda adalah seorang yang was-was dan tidak percayadiri. Terkadang anda memiliki keraguan serius apakah anda sudah membuat keputusan atau sudah betindak benar atau tidak. Dalam kapasitas tertentu anda lebih memilih sesuatu yang berbeda dan merasa gusar dengan kekangan dan pembatasan. Anda merasa bangga menjadi seorang pemikir independen dan tidak pernah menerima statemen orang lain tanpa alas an memuaskan. Anda juga menilai tidak bijaksana jika terlalu berterus-terang dalam mengungkapkan diri terhadap orang lain. Terkadang anda adalah seorang agresif, ramah dan sosial, ada pula kalanya tertutup, waspada dan pendiam. Terkadang apa yang anda inginkan tidak begitu realistis. Merasa aman dan nyaman  adalah sebuah tujuan utama anda”.

Dan apa yang terjadi? Setelah pernyataan itu dibagikan, hampir seluruh mahasiswanya mengaku hasil tes mencerminkan kepribadian mereka. Lalu Forer melakukan eksperimen lagi menggunakan orang yang lebih banyak, dan hasilnya sama. Banyak yang mengaku hasil tesnya mencerminkan kepribadian mereka.

Setelah memaparkan tentang penjelasan efek barnum ini apakah anda masih percaya pada ramalan-ramalan yang berada di majalah maupun sosial media? Jawabannya kembali kepada masing-masing individu. Jangan jadikan itu sebagai patokan dasar untuk menilai kepribadian secara umum. Ingat, anda harus mengetahui bahwa hanya diri Anda sendiri yang mengetahui diri Anda dan setiap manusia itu unik.

Tentu saja jika anda terlalu percaya pada ramalan yang terjadi pada masa depan nanti, maka anda pasti akan pasrah saja dengan keadaan dan tak mau berusaha karena sudah tau apa yang terjadi di masa depan. Ingat, ingat, ingat masa depan itu hanya Allah yang tahu.  Dan yang bisa menentukan masa depan kita adalah diri kita sendiri.



Kamis, 26 Mei 2016

Belajar Menulis Dengan Tugas Menulis Bersama Sahabat Pena Nusantara

Belajar Menulis Dengan Tugas Menulis Bersama Sahabat Pena Nusantara
Kekuatan Catatan [ the power of notes ]
Oleh : Dewi Purwati

Belajar menulis dengan tugas latihan menulis adalah salah satu cara pelatihan menulis yang aplikatif efektif dan kolektif. Pasalnya anggota wajib menulis dan menyetor artikel tiap bulan. Sehingga saya harus memnjembatani diri mencari alternatif solutif agar terus mampu menyetor tugas menulis, dengan cara membuat catatan.

Hargai sebuah proses. Tulisan ini bukanlah tentang seberapa bisa menulis. Tulisan ini bukan pula tentang keberhasilan menulis yang idealis karena tulisan ini masih minimalis. Jauh dari kata baik apalagi menarik. Yang saya sadari saya menangis, di zaman yang dilematis semua orang ingin serba praktis. Ironis, plagiarism mewabah. Merambah generasi atas bawah. Mana boleh generasi muda membaca tanpa bisa menulis? Mana boleh pula menulis tanpa boleh membaca? Tragis, miris, ingin menangis.
Bagi saya, tulisan ini bukan untuk membuat orang tertarik. Tapi usaha mau menjadi lebih baik. Bukan tulisan yang ingin dipuji, apalagi dihargai. Ini lebih dari sekedar sebuah usaha membangun kesadaran jiwa. Melejitkan potensi yang lama tak berdaya guna. Mengorek jiwa yang luput tak terjamah. Mencari sebuah epifani diri, dari kegandrungan menulis dan membaca.
Sejak lama saya suka aktivitas menulis dan membaca. Terhitung sejak duduk dibangku Sekolah Dasar kelas tiga. Saat awal pertama kalinya saya bisa membaca. Untuk kali pertama saya mengeja buku-buku dengan benar dan lancar. Saya menenggelamkan diri bersama dunia baru, menjadi kutu buku bersama teman baru yaitu buku. Buku-buku itu adalah buku cerita bobo dan putri nirwana.

Majalah bobo th. 2000
Majalah Bobo salah satu bacaan unggulanku. Selain membaca juga berlatih berimajinasi bermain peran sendiri, ketawa haha hihi mengarang sambil berkhayal tentang tokoh yang ada didalam buku cerita. Ku hadirkan mereka dalam dunia saya. Saat tidak menyukai akhir alur ceritanya, saya rebah lalu saya rubah naskah.. Saya tulis ulang cerita itu dibuku lain. Saya ubah naskah sesuai sketsa saya. Sesuai versi khalayan saya. Jika megingat dulu itu, benar-benar lucu dan lugu. Saya berbakat pinter menjadi skrip writer sampai ceritanya jadi berputar-putar.
Membaca itu akan memuncullkan daya imajinasi. Iya, daya imajinasi akan tercipta sebagai upaya menuangkan kembali/merekonstruksi apa-apa yang diterima otak dengan kata-kata. Luar biasa. Kreativitas dan aktivitas yang sering muncul itu seperti mengarang, otak dapat leluasa dan bebas menciptakan kata yang bermakna.
Catatan adalah sebuah memo pengingat peristiwa. Peristiwa istimewa menaburkan ketentraman jiwa dan sumber bahagia. Peristiwa duka menawarkan pelajaran berharga. Istimewa ataupun duka samalah artinya sebuah peristiwa. Terlalu sayang bila hanya dikenang. Terlalu murah jika hanya disimpan dikening tanpa dituang. Catatan, adalah jendela anda mendekatkan diri pada aktivitas tulis dan baca.
Seperti yang terjadi, pada istri orang nomer satu di Paramaddina, Ibu omi gemar menulis kerena terbiasa membuat catatan. Catatan itu sederhana namun kaya makna. Kisah nyata tanpa rekayasa. Bukan motif apalagi fiktif belaka. Ini kisah hidup yang menghidupkan. Meski hanya berasal dari serpihan, catatan catatan itu kini menjadi lembaran.


Judul Buku
Hidupku Bersama Cak Nur “Catatan Omi Komaria-Madjid”

Penulis
Omi Komaria Madjid/Istri Nurcholish Madjid (Rektor Paramadina)

Penerbit
Nucholish Madjid Sosiety

Tahun
2015

Resensi
Membaca buku yang ditulis melalui catatan-catatan karya istri Rektor Paramadina ini amatlah menggugah jiwa khususnya dalam pengabadikan pejalanan yang pernah dilewati semasa hidup dengan orang-orang yang pernah ada dalam hidup. Isi buku tersebut benar-benar renyah seakan siapapun yang membaca sedang hadir menyaksikan kisah nyata di dunia cak nur dan bu omi. Rasanya kali ini saya sedang menyantap jagung manis yang benar-benar bergizi bagi peredaran otak untuk memunculkan ide dan gagasan dalam menulis catatan-catatan kehidupan.
Isi buku karya ibu Omi ini tergolong sederhana. Seluruh tulisannya menjelaskan tentang biografi dan perjalanan kehidupan dari awal pertemuan antara siti qamariyyah (omi komaria) dengan nurcholish madjid, pernikahan, proses berumah tangga, hingga tanda-tanda menjelang kewafatan cak nur. Kisah selama 56 tahun berjalan begitu sederhana dalam pembahasaannya. Dapat saya katakan buku ini mampu mempengaruhi saya untuk menulis. Menulis sesuatu yang sederhana, menulis sesuatu yang kaya makna. Yaitu perjalanan hidup bersama seorang yang terpilih dan orang terdekat kita.
Melalui catatan-catatan pendek, bu omi dengan runtun bercerita tentang awal perjumpaan yang memang disengaja oleh Cak Nur. Nuasan-nuansa menulis terbangun seraya menggambarkan kejadian-demi kejadian yang terjadi.
Catatan pengguggah jiwa itu hadir sebagai perwakilan isi pikiran hati yang ingin diungkapkan. Dengan penyajian cerita yang tidak berat, sungguh kisah nyata itu berubah menjadi runtutan cerita yang dapat dipedomani hikmahnya dalam menjalani kehidupan.



Selain buku berjudul “Hidupku bersama Cak Nur” yang membangkitkan aktivitas menulis catatan-catatan. Buku Mengikat makna update karya Hernowo memberikan asupan ide yang lebih mendalam. Ada beberapa konsep aktivitas yang teradopsi dalam pola membaca dan menulis yang kemudian saya aplikasikan dalam kegiatan sehari-hari yaitu buku sebagai makanan pokok bergizi dan ngemil.
Saya mencoba menerapkan teori pertama (1) buku sebagai makanan pokok bergizi. Saya analogikan bahwa kebutuhan makan dalam sehari ialah 3 kali makan (waktu pagi, siang, dan malam). Itu artinya makan adalah kebutuhan pokok untuk hidup. Tanpa makan manusia akan mati. Maka dengan kata lain rutinitas kebutuhan membaca adalah kebutuhan pokok. Awalnya saya hanya membaca 1 buku dalam sehari, itupun buku-buku ilmiah atau journal penelitian. Kali ini akan saya tingkatkan menjadi 3 kali waktu makan. Atau minimal dengan 3 buku dalam sehari.
Hari ini misalnya. Sebelum berangkat mengikuti seminar proposal ananda Desi Oktaviana. Di waktu pagi saya sajikan sepotong sandwish bernutrisi karya Omi Komaria yang berjudul “Hidupku bersama Cak Nur”. Saya sempatkan sarapan pagi dengan hidangan menu bergizi dari catatan-catatan singkat istri rektor Universitas Paramadina ini. Di buku tersebut menceritakan perjalanan kehidupan yang mula-mula diawali dengan kisah pertemuan beliau dengan sosok yang disebut dengan “Cak Nur” orang nomer satu di Paramadina. Dapat saya katakan, buku ini cocok untuk pecinta penulis catatan seperti saya. Pasalnya, catatan yang dibuat bu Omi ini bersumber dari kisah nyata yang kemudian dituangkan dalam tulisan. Bukan karangan fiksi. Sehingga, alur cerita yang ada didalamnya benar-benar nyata tanpa setting. Di sisi lain, sentuhan-sentuhan hikmah semasa hidup berlangsung dapat ditersalur benar dalam sanubari pembaca. Inilah yang saya sebut dengan kekuatan catatan. The Power Of Notes. Seketika pula saya menerapkan menulis setelah membaca buku tersebut.
Siang sekitar pukul 14.07 saat hendak makan siang dengan buku karya Hernowo. Sesegera mungkin saya menuliskan hal-hal yang menarik dan penting saya peroleh dari buku tersebut sebagai asupan otak.

(Mengikat Makna Update Hernowo)
Dalam buku Hernowo mengatakan bahwa untuk menjalankan kegiatan membaca dan menulis awalilah dengan kesenangan dan kepedulian terhadap diri sendiri. Artinya kehidupan yang kita jalani ini amat terlalu sayang jika tidak dipedulikan untuk anda tuliskan. Ini yang kemudian saya maksud bahwa kepedulian merekam hikmah terhadap diri sendiri adalah sumber dari kekuatan catatan.
Menurut hemat saya, kesenangan terhadap aktivitas membaca maupun menulis haruslah terbangun dahulu. Pertama, mula-mula membiasakan diri agar membaca dan menulis untuk mendapatkan manfaat sebanyak-banyak dan sebesar-besarnya dalam pengembangan diri. Apabila sudah senang menjalankan kegiatan membaca dan menulis secara maraton, kontinu, dan konsisten lalu menghasilkan sesuatu yang bermakna bagi diri, bagikanlah pengetahuan dan pengalaman tersebut dalam menjalankan kegiatan membaca dan menulis yang hebat itu kepada orang lain.
Kedua, membiasakan membuat catatan. Ketika membuat tulisan dalam bentuk cacatan harian, catatan itu sungguh mulai memberikan banyak perhatian kepada diri Anda dan kepada apa yang terjadi di dalam hati anda. Apa yang ada dalam hati terkecil saya, yang paling rahasia, yang tersimpan di dalam diri maka tulislah hal-hal tersebut.


Yang terpenting dalam buku Hernowo menulis adalah memiliki kandungan kata mengikat. Mengikat disini artinya ialah sebuah kegiatan merekam, menyimpan dan mendokumentasikan. Catatan harian saya bersama rekan tim tentang therapi tertawa di Bali yang berjudul Balinesia ialah hasil merekam kejadian, menyimpan history, dan mendokumtasikan arsip-arsip berharga yang bertujuan menularkan energi-energi positif iqra’ dan uktub
Kebahagiaan sejati dari cacatan harianku saya dapat menulis secara sangat bebas. Kegiatan menulis yang saya lakukan berada dalam kendali mutlak saya. Di samping itu dengan menulis catatan saya dapat melibatkan diri secara penuh dan total. Saya juga dapat menjadi lebih dekat dengan diri saya sendiri. Semakin kerap saya menulis catatan semakin dekat pula jarak saya dengan diri saya. Saya juga dapat bertukar kabar, berdialog dan mengenal sisi-sisi pada diri saya yang tersembunyi yang selama ini saya tidak pedulikan dalam kesehariaan kehidupan saya. Lewat menulis, diri saya yang tidak sempat terjamah dan pedulikan itu, satu persatu bermunculan dan nampak lebih jelas.
Saya memulai aktivitas membaca dan menulis sejak saya kecil. Saya sering membuat essay yang menggambarkan keselurahan aktivitas saya misalnya saja Januari lalu saya pergi ke Bali saya menuliskan cacatan-catatan perjalanan saya dan mengirimkannya ke redaktur konsen labolatorium BKI UIN Sunan Kalijaga.
.

Praktikum Mikro Konseling BKI UIN Sunan Kalijaga



Jika dulu saya pernah menulis artikel tentang Pembekalan Mikro Koseling BKI UIN Sunan Kalijaga. Hari ini saya akan  menulis tentang proses praktikum/aplikasi setelah pembekalan sekaligus proses praktikum selama tatap muka 14 kali pertemuan.

Perlu diketahui, bahwa maksud dan tujuan Program Studi BKI Uin Sunan Kalijaga Yogyakarta mengadakan mikro konseling ialah untuk melatih kompetensi calon konselor islam bagi mahasiswa BKI yang profesional dari segi pengusasaan teknik, pemberian layanan, tahap-tahap konseling serta implementasinya terhadap bidang-bidang bimbingan konseling meliputi : bidang pribadi, sosial, belajar, karir, keluarga, keagamaaan.

Seperti yang tertulis dalam artikel sebelumnya pentingnya pembekalan mikro konseling lahir atas dasar peliknya problematika yang hadir pada pelaksanaan konseling di Perguruan Tinggi dewasa ini. Selain itu, hambatan-hambatan yang muncul yang mendasar seperti penerapan pendekatan terhadap permasalahan klien, mengkawinkan kedua teori berbasis umum dan islam,  serta pemilihan teknik dalam pendekatan menambah deretan nominasi probelmatika yang hadir. Apalagi sampai pada praktik ilegal yang tidak berdasarkan kode etik alias sak-sake atau asal-asalan.

Dari probelamtika itulah, pemicu utama program studi BKI menjembatani para calon konselor agar tidak salah proses dan arah. Sehingga praktik mikro berupaya memberikan orientasi dasar, tujuan, sistem pelaksanaan yang benar, bentuk, praktik lapangan, analisis masalah sampai penilaian serta penyususnan laporan kepada mahasiswa, dalam proses pelaksanaan mikro konseling yang terplaning maupun unplanning secara utuh. 

Nah, mikro konseling adalah kuliah praktikum yang harus diikuti oleh mahasiswa program studi BKI (Bimbingan dan Konseling Islam) yang duduk pada semester VI. Mikro konseling dilaksanakan dalam bentuk pelatihan konseling dengan mengkawinkan pendekatan umum dan islam secara terprogram di bawah bimbingan Tim Dosen Mikro Konseling untuk memenuhi salah satu persyaratan kompetensi sebagai konselor yang profesional. 

Hal tersebut dilakukan agar mahasiswa mendapatkan ketrampilan yang sesuai standar secara komprehensif dan tidak parsial. Selain itu dalam mikro konseling mahasiswa diarahkan mampu menerapkan dan mengintregrasikan teori dan pendekatan konseling secara konektif, intregratif. Ini salah satu upaya yamg saya katakan mempersiapkan kompetensi mahasiswa BKI serius dan fokus ketika praktik komseling di lapangan.

Untuk itu, dibutuhkan praktikum mikro konseling yang benar-benar real. Artinya konselor akan menghadapi klien yang tidak dikenal sebelumnya, berbeda usia, dan berbeda kebudayaan. Konseli yang dihadapipun berlatar belakang pendidikan beragam, mulai dari jenjang pendidikan SMP, SMA, Perguruan Tinggi, bahkan sampai pegawai, guru. Sehingga dalam praktikum mikro Konseling kali ini, mahasiswa akan dihadapkan oleh permasalahan yang benar-benar real (nyata) melalui konseli itu sendiri. 

Disinilah letak kompetitif dan kredibilitas keilmuan konseling mahasiswa BKI diuji. Masimg-masing mahasiswa harus cakap mengidentifikasi dan mendiagnosis langsung pokok masalah dan masalah-masalah penyerta, mengaplikasikan teknik kedalam penyelesaian, dan sekaligus mengkawinkan teori islam dengan umum sebagai kunci penyelesaian masalah.

Selain itu dalam proses praktikum mikro konseling mahasiswa dituntut aplikatif serta aktif praktik dalam menerapkan teknik-teknik konseling dengan berbagai pendekatan konseling individual  yang sesuai terhadap permasalahan konseli.


Adapun proses praktikum Mikro Konseling ini dilaksanakan di Studio Suka TV Gedung PTIPD (Pusat Tegnologi Informasi Pengembangan Dakwah). Praktikum tersebut, akan dilakukan oleh konselor dan konseli berdasarkan urutan jadwal yang terlampir. Dalam proses praktikum mikro ini, seluruh proses konseling akan di syutingm oleh crew Suka Tv. Proses praktikum yang telah di shoot video akan diolah oleh crew kemudian diberikan kepada tim Dosen Mikro Konseling dalam bentuk CD. Video tersebut akan ditontonkan kepada mahasiswa dan tim Dosen Praktikum. Kemudian bersama-sama mengevaluasi dan menilai kelebihan dan kekurangan selama proses konseling terjadi.


Dalam evaluasi penilaian dan perbaikan tersebut terdapat beberapa kriteria standar yang harus dicapai oleh mahasiswa. Salah satunya ialah durasi waktu. Durasi proses konseling yang berlangsung tidak boleh kurang dari lima belas menit. Jika terdapar beberapa mahasiswa yang kurang memenuhi syarat maka akan dilakukan remidial praktikum konseling kedua. 

Selasa, 24 Mei 2016

The Power Of Notes



The Power Of Notes
Kekuatan Catatan
Oleh : Dewi Purwati

Hargai sebuah proses. Tulisan ini bukanlah tentang seberapa bisa menulis. Tulisan ini bukan pula tentang keberhasilan menulis yang idealis karena tulisan ini masih minimalis. Jauh dari kata baik apalagi menarik. Yang saya sadari saya menangis, di zaman yang dilematis semua orang ingin serba praktis. Ironis, plagiarism mewabah. Merambah generasi atas bawah. Mana boleh generasi muda membaca tanpa bisa menulis? Mana boleh pula menulis tanpa boleh membaca? Tragis, miris, ingin menangis.
Bagi saya, tulisan ini bukan untuk membuat orang tertarik. Tapi usaha mau menjadi lebih baik. Bukan tulisan yang ingin dipuji, apalagi dihargai. Ini lebih dari sekedar sebuah usaha membangun kesadaran jiwa. Melejitkan potensi yang lama tak berdaya guna. Mengorek jiwa yang luput tak terjamah. Mencari sebuah epifani diri, dari kegandrungan menulis dan membaca.
Sejak lama saya suka aktivitas menulis dan membaca. Terhitung sejak duduk dibangku Sekolah Dasar kelas tiga. Saat awal pertama kalinya saya bisa membaca. Untuk kali pertama saya mengeja buku-buku dengan benar dan lancar. Saya menenggelamkan diri bersama dunia baru, menjadi kutu buku bersama teman baru yaitu buku. Buku-buku itu adalah buku cerita bobo dan putri nirwana.
Description: C:\Users\user\Pictures\2000.jpg
Majalah bobo th. 2000
Majalah Bobo salah satu bacaan unggulanku. Selain membaca juga berlatih berimajinasi bermain peran sendiri, ketawa haha hihi mengarang sambil berkhayal tentang tokoh yang ada didalam buku cerita. Ku hadirkan mereka dalam dunia saya. Saat tidak menyukai akhir alur ceritanya, saya rebah lalu saya rubah naskah.. Saya tulis ulang cerita itu dibuku lain. Saya ubah naskah sesuai sketsa saya. Sesuai versi khalayan saya. Jika megingat dulu itu, benar-benar lucu dan lugu. Saya berbakat pinter menjadi skrip writer sampai ceritanya jadi berputar-putar.
Membaca itu akan memuncullkan daya imajinasi. Iya, daya imajinasi akan tercipta sebagai upaya menuangkan kembali/merekonstruksi apa-apa yang diterima otak dengan kata-kata. Luar biasa. Kreativitas dan aktivitas yang sering muncul itu seperti mengarang, otak dapat leluasa dan bebas menciptakan kata yang bermakna.
Catatan adalah sebuah memo pengingat peristiwa. Peristiwa istimewa menaburkan ketentraman jiwa dan sumber bahagia. Peristiwa duka menawarkan pelajaran berharga. Istimewa ataupun duka samalah artinya sebuah peristiwa. Terlalu sayang bila hanya dikenang. Terlalu murah jika hanya disimpan dikening tanpa dituang. Catatan, adalah jendela anda mendekatkan diri pada aktivitas tulis dan baca.
Seperti yang terjadi, pada istri orang nomer satu di Paramaddina, Ibu omi gemar menulis kerena terbiasa membuat catatan. Catatan itu sederhana namun kaya makna. Kisah nyata tanpa rekayasa. Bukan motif apalagi fiktif belaka. Ini kisah hidup yang menghidupkan. Meski hanya berasal dari serpihan, catatan catatan itu kini menjadi lembaran.

Description: C:\Users\user\Pictures\download.jpg
Judul Buku
Hidupku Bersama Cak Nur “Catatan Omi Komaria-Madjid”
Penulis
Omi Komaria Madjid/Istri Nurcholish Madjid (Rektor Paramadina)
Penerbit
Nucholish Madjid Sosiety
Tahun
2015
Resensi
Membaca buku yang ditulis melalui catatan-catatan karya istri Rektor Paramadina ini amatlah menggugah jiwa khususnya dalam pengabadikan pejalanan yang pernah dilewati semasa hidup dengan orang-orang yang pernah ada dalam hidup. Isi buku tersebut benar-benar renyah seakan siapapun yang membaca sedang hadir menyaksikan kisah nyata di dunia cak nur dan bu omi. Rasanya kali ini saya sedang menyantap jagung manis yang benar-benar bergizi bagi peredaran otak untuk memunculkan ide dan gagasan dalam menulis catatan-catatan kehidupan.
Isi buku karya ibu Omi ini tergolong sederhana. Seluruh tulisannya menjelaskan tentang biografi dan perjalanan kehidupan dari awal pertemuan antara siti qamariyyah (omi komaria) dengan nurcholish madjid, pernikahan, proses berumah tangga, hingga tanda-tanda menjelang kewafatan cak nur. Kisah selama 56 tahun berjalan begitu sederhana dalam pembahasaannya.  Dapat saya katakan buku ini mampu mempengaruhi saya untuk menulis. Menulis sesuatu yang sederhana, menulis sesuatu yang kaya makna. Yaitu perjalanan hidup bersama seorang yang terpilih dan orang terdekat kita.
Melalui catatan-catatan pendek, bu omi dengan runtun bercerita tentang awal perjumpaan yang memang disengaja oleh Cak Nur. Nuasan-nuansa menulis terbangun seraya menggambarkan kejadian-demi kejadian yang terjadi.
Catatan pengguggah jiwa itu hadir sebagai perwakilan isi pikiran hati yang ingin diungkapkan. Dengan penyajian cerita yang tidak berat, sungguh kisah nyata itu berubah menjadi runtutan cerita yang dapat dipedomani hikmahnya dalam menjalani kehidupan.


Selain buku berjudul “Hidupku bersama Cak Nur” yang membangkitkan aktivitas menulis catatan-catatan. Buku Mengikat makna update karya Hernowo memberikan asupan ide yang lebih mendalam. Ada beberapa konsep aktivitas yang teradopsi dalam pola membaca dan menulis yang kemudian saya aplikasikan dalam kegiatan sehari-hari yaitu buku sebagai makanan pokok bergizi dan ngemil.
Saya mencoba menerapkan teori pertama (1) buku sebagai makanan pokok bergizi. Saya analogikan bahwa kebutuhan makan dalam sehari ialah 3 kali makan (waktu pagi, siang, dan malam). Itu artinya makan adalah kebutuhan pokok untuk hidup. Tanpa makan manusia akan mati. Maka dengan kata lain rutinitas kebutuhan membaca adalah kebutuhan pokok. Awalnya saya hanya membaca 1 buku dalam sehari, itupun buku-buku ilmiah atau journal penelitian. Kali ini akan saya tingkatkan menjadi 3 kali waktu makan. Atau minimal dengan 3 buku dalam sehari.
Hari ini misalnya. Sebelum berangkat mengikuti seminar proposal ananda Desi Oktaviana. Di waktu pagi saya sajikan sepotong sandwish bernutrisi karya Omi Komaria yang berjudul “Hidupku bersama Cak Nur”. Saya sempatkan sarapan pagi dengan hidangan menu bergizi dari catatan-catatan singkat istri rektor Universitas Paramadina ini. Di buku tersebut menceritakan perjalanan kehidupan yang mula-mula diawali dengan kisah pertemuan beliau dengan sosok yang disebut dengan “Cak Nur” orang nomer satu di Paramadina. Dapat saya katakan, buku ini cocok untuk pecinta penulis catatan seperti saya. Pasalnya, catatan yang dibuat bu Omi ini bersumber dari kisah nyata yang kemudian dituangkan dalam tulisan. Bukan karangan fiksi. Sehingga, alur cerita yang ada didalamnya benar-benar nyata tanpa setting. Di sisi lain, sentuhan-sentuhan hikmah semasa hidup berlangsung dapat ditersalur benar dalam sanubari pembaca. Inilah yang saya sebut dengan kekuatan catatan. The Power Of Notes. Seketika pula saya menerapkan menulis setelah membaca buku tersebut.
Siang sekitar pukul 14.07 saat hendak makan siang dengan buku karya Hernowo. Sesegera mungkin saya menuliskan hal-hal yang menarik dan penting saya peroleh dari buku tersebut sebagai asupan otak.
Description: C:\Users\user\Pictures\download (1).jpg
(Mengikat Makna Update Hernowo)
Dalam buku Hernowo mengatakan bahwa untuk menjalankan kegiatan membaca dan menulis awalilah dengan kesenangan dan kepedulian terhadap diri sendiri. Artinya kehidupan yang kita jalani ini amat terlalu sayang jika tidak dipedulikan untuk anda tuliskan. Ini yang kemudian saya maksud bahwa kepedulian merekam hikmah terhadap diri sendiri adalah sumber dari kekuatan catatan.
Menurut hemat saya, kesenangan terhadap aktivitas membaca maupun menulis haruslah terbangun dahulu. Pertama, mula-mula membiasakan diri agar membaca dan menulis untuk mendapatkan manfaat sebanyak-banyak dan sebesar-besarnya dalam pengembangan diri. Apabila sudah senang menjalankan kegiatan membaca dan menulis secara maraton, kontinu, dan konsisten lalu menghasilkan sesuatu yang bermakna bagi diri, bagikanlah pengetahuan dan pengalaman tersebut dalam menjalankan kegiatan membaca dan menulis yang hebat itu kepada orang lain.
Kedua, membiasakan membuat catatan. Ketika membuat tulisan dalam bentuk cacatan harian, catatan itu sungguh mulai memberikan banyak perhatian kepada diri Anda dan kepada apa yang terjadi di dalam hati anda. Apa yang ada dalam hati terkecil saya, yang paling rahasia, yang tersimpan di dalam diri maka tulislah hal-hal tersebut.
Description: C:\Users\user\Pictures\download (1).jpg

Yang terpenting dalam buku Hernowo menulis adalah memiliki kandungan kata mengikat. Mengikat disini artinya ialah sebuah kegiatan merekam, menyimpan dan mendokumentasikan. Catatan harian saya bersama rekan tim tentang therapi tertawa di Bali yang berjudul Balinesia ialah hasil merekam kejadian, menyimpan history, dan mendokumtasikan arsip-arsip berharga yang bertujuan menularkan energi-energi positif iqra’ dan uktub
Kebahagiaan sejati dari cacatan harianku saya dapat menulis secara sangat bebas. Kegiatan menulis yang saya lakukan berada dalam kendali mutlak saya. Di samping itu dengan menulis catatan saya dapat melibatkan diri secara penuh dan total. Saya juga dapat menjadi lebih dekat dengan diri saya sendiri. Semakin kerap saya menulis catatan semakin dekat pula jarak saya dengan diri saya. Saya juga dapat bertukar kabar, berdialog dan mengenal sisi-sisi pada diri saya yang tersembunyi yang selama ini saya tidak pedulikan dalam kesehariaan kehidupan saya. Lewat menulis, diri saya yang tidak sempat terjamah dan pedulikan itu, satu persatu bermunculan dan nampak lebih jelas.
Saya memulai aktivitas membaca dan menulis sejak saya kecil. Saya sering membuat essay yang menggambarkan keselurahan aktivitas saya misalnya saja Januari lalu saya pergi ke Bali saya menuliskan cacatan-catatan perjalanan saya dan mengirimkannya ke redaktur konsen labolatorium BKI UIN Sunan Kalijaga.