Catatan
kali ini singkat, lahir berdasarkan pengalaman bersama adik-adik (pesdik) memberikan pemahaman tentang efek barnum dan
hubungannya dengan ramalan. Pasalnya selama hampir sebulan saya berburu
pengalaman dunia pendidikan di salah satu Madrasah Rintisan Unggulan (RMU) di
Yogyakarta. Saya kerap beberapa kali memergoki siswa asyik dan nampak hobbi
membaca ramalan di salah satu majalah
mingguan langganan madrasah tersebut. Dan benar yang saya khawatirkan mereka
memang percaya dengan ramalan-ramalan tersebut. Yang barang tentu hal-hal (semacam
ramalan) itu bila terus di percaya oleh anak-anak, akan menumbuhkan sikap anak
yang mudah pasrah dan terlalu mudah percaya dengan apa yang belum tentu
terjadi.
Jangankan
anak, sebagain orang dewasapun pernah kita jumpai. Akhir-akhir ini misalnya
kita menjumpai ramalan-ramalan yang menjamur di sosial media (terutama facebook
dan twitter). Entah itu sebuah ramalan berdasarkan zodiak, golongan darah,
inisial nama, foto profil, bentuk tubuh, warna favorit dll. Semoga saja tidak
ada yang aneh-aneh sampai meramal berdasarkan bau keringat.
Sebelum
percaya mentah-mentah tentang apa saja yang diramalkan, ada baiknya kita
mencari tahu dan memperbanyak dialog dengan ahli konseling dan psikologi. Hal
yang menarik dibahas kali ini ialah efek barnum. Mungkin bagi kalangan
akademisi (konselor dan psikolog) yang bergelut dalam keilmuan tersebut lumrah tentang
menggunaan efek barnum ini.
Sebenarnya
apa itu efek Barnum? Jadi begini, dalam dunia psikologi, Efek Barnum atau
dikenal juga dengan nama Efek Forer merupakan teori yang berdasar pada
observasi Phineas Taylor Barnum bahwa semua manusia memiliki beberapa
kesamaan, yang kemudian dibuktikan melalui demonstrasi psikolog Amerika, Bertram
R. Forer.
Efek
Barnum sendiri merupakan sebuah manipulasi psikologis dimana variabel-variabel
yang sebenarnya berlaku secara umum pada setiap orang dimanipulasi dalam cara
agar kondisi tersebut terlihat seolah-olah berlaku khusus untuk orang tersebut
secara pribadi.
Singkatnya,
Efek Barnum adalah kecenderungan dimana orang-orang mengatakan suatu ramalan
kepribadian mereka tepat, yang pada kenyataannya kepribadian tersebut tidaklah
spesifik dan dapat diterapkan ke semua orang sehingga kata-katanya dirangkai
sedemikian rupa sehingga terkesan khusus pada suatu golongan tertentu. Jadi
misalnya suatu golongan tertentu merasa suatu ramalan tepat dan sangan
mencerminkan sosoknya, namun nyatanya itu adalah kondisi umum dan dapat
diterapkan di semua golongan. Contohnya begini,
#Libra
Asmara : Untuk mempertahankan pasangan anda, cobalah lakukan komunikasi dengan
frekuensi teratur dan sering”
Tunggu
dulu? Pasti yang merasa zodiaknya Libra dalam hati akan berkata “Oh iya, bener
banget. Aku harus ajak si dia komunikasi yang lebih sering”. Padahal, secara umum
apapun zodiakmu, pasti memang seperti itu caranya mempertahankan hubungan.
Contoh lain.
“Golongan
darah O : anda adalah pribadi yang unik. Saat anda sedang berkumpul bersama
dengan teman-teman atau keluarga anda dan tertawa bisa jadi dalam hati anda
merasa sendiri. Terkadang anda berpikir bagaimana caranya agar dapat disukai
dengan orang-orang di sekitar anda”.
Bagaimana?
Jika bunyinya demikian, yang bergolongan darah O bisa jadi merasa ramalan tersebut
cocok banget buat aku. Begitulah kira-kira contoh efek barnum.
Kembali
ke sejarah awal bahwa efek barnum ini pernah diteliti oleh Prof. Forer pada
tahun 1948. Awalnya Prof. Forer membagi 39 amplop tertutup pada 39
mahasiswanya, isinya tentang hasil tes kepribadian yang telah mereka lakukan
seminggu sebelumnya. Tiap-tiap amplop semua isinya sama. Demontrasi isinya
kurang lebih seperti ini :
“
Anda merasa perlu untuk disukai dan dikagumi orang lain, tapi pada saat yang
sama anda juga cenderung kritis terhadap diri sendiri. Anda mempunyai kapasitas
besar terpendam yang sebenarnya bisa anda kerahkan demi kesuksesan anda.Meski
anda memiliki sisi lemah dalam kepribadian, tapi anda biasanya berhasil untuk
mengkompensasinya. Dari luar anda terlihat sebagai seorang berdisiplin dan
percaya diri, namun di dalam anda adalah seorang yang was-was dan tidak
percayadiri. Terkadang anda memiliki keraguan serius apakah anda sudah membuat
keputusan atau sudah betindak benar atau tidak. Dalam kapasitas tertentu anda
lebih memilih sesuatu yang berbeda dan merasa gusar dengan kekangan dan
pembatasan. Anda merasa bangga menjadi seorang pemikir independen dan tidak
pernah menerima statemen orang lain tanpa alas an memuaskan. Anda juga menilai
tidak bijaksana jika terlalu berterus-terang dalam mengungkapkan diri terhadap
orang lain. Terkadang anda adalah seorang agresif, ramah dan sosial, ada pula
kalanya tertutup, waspada dan pendiam. Terkadang apa yang anda inginkan tidak
begitu realistis. Merasa aman dan nyaman adalah sebuah tujuan utama
anda”.
Dan
apa yang terjadi? Setelah pernyataan itu dibagikan, hampir seluruh mahasiswanya
mengaku hasil tes mencerminkan kepribadian mereka. Lalu Forer melakukan
eksperimen lagi menggunakan orang yang lebih banyak, dan hasilnya sama. Banyak
yang mengaku hasil tesnya mencerminkan kepribadian mereka.
Setelah
memaparkan tentang penjelasan efek barnum ini apakah anda masih percaya pada
ramalan-ramalan yang berada di majalah maupun sosial media? Jawabannya kembali
kepada masing-masing individu. Jangan jadikan itu sebagai patokan dasar untuk
menilai kepribadian secara umum. Ingat, anda harus mengetahui bahwa hanya diri
Anda sendiri yang mengetahui diri Anda dan setiap manusia itu unik.
Tentu
saja jika anda terlalu percaya pada ramalan yang terjadi pada masa depan nanti,
maka anda pasti akan pasrah saja dengan keadaan dan tak mau berusaha karena
sudah tau apa yang terjadi di masa depan. Ingat, ingat, ingat masa depan itu
hanya Allah yang tahu. Dan yang bisa
menentukan masa depan kita adalah diri kita sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar