PESONA KONFERENSI NASIONAL BKI UIN SUNAN KALIJAGA 2016
BERSAMA UIN SUNAN DRAJAT DAN SUNAN AMPEL
Oleh : Dewi Purwati
Dimoderatori oleh Muhsin
Kalida M.A
Narasumber
: Agus Santosa M. Si (UIN Sunan Ampel
Surabaya)
Sugandi
Miharja M. Si (UIN Sunan Drajat Bandung)
Sebuah kalimat mempesona keluar dari pemandu konferensi
nasional BKI di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pagi tadi 27/10/2016. Bahwa
pertemuan konferensi ini laksana ijtihad mengulang sejarah yang dulu dilakukan
oleh para auliya’ yakni berkumpul menyerap dan bertukar keilmuan. Layaknya sebuah
pertemuan Sunan Kalijaga dengan para wali lain diantaranya sunan Drajat dan
sunan Ampel, hari ini ketiga universitas islam seolah kembali merindukan pesona
pertemuan keilmuan dengan hadirnya akademisi UIN Sunan Ampel dan UIN Sunan
Drajat ke UIN Sunan Kalijaga.
Konferensi Nasional pagi tadi, Sugandi Miharja selaku
narasumber pertama menawarkan pola konvensional yang diperbaruhui. Sugandi
menawarkan sebuah konsep organisasi yaang diperbarui, dan penyempurnakan
pola-pola BK yang telah ada. Karena menurut Sugandi, alurnya
pada organising lebih penting dan harus tersusun
lebih dulu. Sebab dalam organizing tedapat: Pertama, Pelaku,
yakni orang-orang ahli (konselor) yang memiliki misi pribadi yang islami~ lebih
jauh lagi, bagaimana dan apa yang ia pahami tentang ayat Qu’ran beserta
Haditsnya. Kedua, Program. Sugandi mengacu kembali kepada SWOT. Dengan kesimpulan Dr. Sugandi menawarkan pola
layanan yang baru yang disebut dengan Pola Penyempurnaan. Dimana
pola tersebut berisi pola konvensional umum namun dikembangkan dan dikemas dengan muatan nilai kegamaan. Begitu
pula pemaparan pola komprehensif
(misalnya pada layanan dasar:
cara etika, pereturan : tata krama saat orientasi siswa).
Berbeda
dengan narasumber yang ke dua, Agus Santosa tidak banyak menawarkan kerangka
konsep sebagaimana halnya Dr Sugandi paparkan. Dalam konferensi nasional tadi
pagi, Dr. Agus melejitkan
diri setiap audiencies kembali untuk menyadari dirinya. Ini yang ia katakan
sebagai kekuatan penyadaran diri.
Secara singkat pemaran materi yang ditawarkan oleh Agus
terkait dengan terapis penyadaran diri dengan teknik menulis. Hal ini sesuai
dengan perintah Allah dalam surat Al-Alaq. Lalu kenapa kita tidak kemudian
gunakan teknik menulis ini sebagai terapi penyadaran diri? Di dalam ayat
tersebut –islami tepaut padu-
Uniknya, konferensi pagi tadi menimbulkan “Efek
Domino” bagi audiences. Pasalnya kurang lebih enam peserta
konferensi nasional siang tadi menulis hingga menangis dengan
apa yang ia tuliskan.
Peserta itu mengaku tidak menyadari bahwa kuatnya ikatan
emosi, hati, jiwa kita dengan nilai-nilai kebenaran agama, sehingga menulis mereka
merasa terpesona dengan nuansa ketauahidan yang esa.
Salah satu untaian tulisan yang terekam dalam konfensi
nasional pagi tadi sebagai berikut:
Menulis
ialah aktivitas dimana kita mengungkapkan menuangkan pikiran yang ada dalam
otak, jiwa dan persaan dalam bentuk rangkaian kata yang tersusun menjadi sebuah
kalimat.
Konselor islami harus melihat konseli
dari luar dan dari dalam. Konseling itu barang hikmah.
Diakhir sesi acara inti Agus
Susanto menambahkan, dulu keilmuan-keilmuan islam telah dirampas dan diubah
lalu kemudian dibawa dan diakui oleh orang-orang Barat. Setelah sampai di Barat
dan kemudian dibawa kembali ke Timur. Seakan-akan ilmu itu salah lalu harus
diubah dan kembali sesuai ilmu-ilmu Timur. Bukankah Tuhan pemilik seluruh
wilayah Timur dan Barat, tegasnya.
