Part I Dari Jakarta Menuju Yogja
Dewi Purwati
Kemarin Jumat 10 Februari 2017 aku meninggalkan kota Jakarta. Pada hari itu aku melakukan perjalan menuju Jogjakarta guna keperluan persiapan wisuda. Umumnya sebelum dilaksanakan wisuda ada beberapa rangkaian kegiatan yang dilakukan. Adapun kegiatan tersebut antara lain tasyakuran wisuda, pembekalan, latihan wisuda akbar, hingga acara penghujung yaitu Rapat Senat Terbuka Wisuda sendiri.
Untuk menuju kota istimewa semalam saya harus meroggoh kocek dengan membayar tiket bus lebih mahal dari biasanya dari agen tiket bud langganan keluarga. Sebab saat ini wilayah Jakarta tidak boleh dilintasi oleh bus antar provinsi sehingga siapapun yang hendak pergi ke luar kota akan dilansir dari agen pemesanan tiket menuju kota Bekasi dan Pulau Gebang. Sudah 1 bulan ini program pemerintah mengurangi tingkatnya kemacetan gencar dilaksanakan, salah satunya melarang bus bus besar antar provinsi masuk kota kota Jakarta.
Setibanya saya di agen pangkalan jati. Terlihat beberapa penumpang sedang menunggu untuk dilansir. Tiba giliranku bersama sepuluh orang rombongan lainnya menuju kota Bekasi. Di dalam perjalanan saya meliput seluruh keadaan jalan yang padat.
Akhirnya sampai di Bekasi Timur sebuah kota dimana bus yang akan mengantarkan kami menuju Jogjakarta telah menunggu. Segera para penumpang bergegas mencari pesanan seri bus dan tempat duduk masing masing. Saya memesan bus Maju Lancar, tujuan Jogja-Wonosari, seri bus "I" dengan nomer tempat duduk urutan ke 6. Akhirnya kutemukan bus sesuai dengan pesanan tiketku.
Tak lama kemudian, tempat duduk nomer 5 ditempati oleh seorang pria. Bus Maju Lancar jurusan Jakarta-Jogja ini selain Ac, juga didesign dengan 2 seat disayap kanan dan kiri. Artinya setiap penumpang akan bersebelahan dengan penumpang lainnya.
Pemesan tiket nomer 5 itupun akhirnya tiba dan duduk bersebelahan denganku. Beliau seorang pria yang usianya masuk kepala 5. Sayapun tersenyum dengan bapak itu.
Setelah selang nyaman dengan tempat duduknya. Beliau rupanya mudah sekali bergaul, tanpa sungkan beliau bertanya namaku dan tujuanku. Percakapanpun terjadi diantara kami saat itu. Beliau mulai bercerita tujuannya ke jogjakarta, pasalnya sang bapak hendak menghadiri acara reuni di UPN Yogyakarta. Sudah 35 tahun beliau tidak pernah ke Jogjakarta untuk memenuhi undangan reuni UPN, dan kali ini beliau memutuskan untuk hadir. Rupanya bapak yang bernama Rudi, tidak pernah hadir reuni 5 th sekali lantaran ia dan teman temannya terikat janji harus sukses, mapan dan pantas sebelum usia 50 th.
Singkat cerita, pak Rudi di usianya yang ke 50 th. Kesuksesan telah diraih, istri yang setia sudah bersamanya, serta anak anak yang baik sudah melengkapi hidupnya. Semua itu berkat giiat berusaha. Hidup di Jakarta memang pahit, tidaklah mudah. Tapi rupanya pak Rudi mengaku terlambat sukses. Kesuksesannya mulai meningkat manakala ia begitu dekat dengan Allah dan sunnatullah.
Saya bisa seperti ini bukan karena usaha saya, akan tetapi lantaran pertolongan Tuhan. Saya benar benar menyesal kenapa tidak dari dulu saya berpengangan dengan Al Quran dan As Sunnah, begitu tuturnya.
Saat itu, saya berusaha menjadi penyimak dan pendengar yang baik ketika beliau bercerita. Pak Rudi mengalami keajaiban demi keajaiban kecil dari hebatnya sebuah amalan shalawat nabi yang di istiqmahkan. Kesuksesan demi kesuksesan diperolah. Sesungguhnya dekatnya hamba pada Allah juga mendekatkannya pada kesusksesan dunia akhirat.
Keistimewaan shalawat kepada nabi begitu dasyat. Kita belum akan percaya apabila tidak mengamalkannya sendiri. Dikatakan bahwa Allah sendiri dan malaikat-malaikat Allah bershalawat (memohon kesejahteraan) untuk nabi. Sebagaimana yang tertuang dalam surat Al-Ahzab : 56
ان الله و ملائكته يصلون على النبي يايها الذين امنوا صلوا عليه و سلم تسليما
Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat (memohon kesejahteraan) untuk nabi. Hai orang orang beriman, bershalawatlah kamu sekalian dan bersalamlah untuknya. (Al-ahzab : 56)
Masih ingat kan? Bagaimana ustadz Yusuf Mansyur mampu naik haji juga menyelamatkan pondok dari kebakaran hebat. Rahasianya hanya 1 amalan shalawat nabi. Beliau setiap hari mengamalkan ratusan hingga ribuan shalawat nabi. Sehingga Allah lebarkan kesempitannya, Allah mudahkan kesulitannya. Tiada yang mustahil jika ALLAH telah berkendak, maka terjadilah. (Kun Fayakun)
Yogyakarta, 12 Februari 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar