Selasa, 14 Februari 2017

Part III Dari Jakarta Menuju Yogyakarta

Part III Dari Jakarta Menuju Yogyakarta
Dewi Purwati


Jangan Suka Pilih Pilih Calon Suami!
Pernikahan ialah sebuah ibadah bagi seseorang sebagai penyempurnaan agamanya. Bahkan kita juga pasti ingat, bahwa nabi menganjurkan setiap umatnya menikah, umat yang tidak mengikuti sunahnya maka bukan golongannya. Termasuk dalam hal pernikahan.

Malam itu, pak Rudi bercerita perihal keponakan perempuannya yang tak kunjung mau menikah. Sudah beberapa kali di pertemukan oleh anak sahabat dari kerabat kerebatannya, belum ada satupun pria yang cocok. Pernah pula ia di tawarkan berkenalan atau taaruf dengan seorang ustadz sekaligus penghafal Al-Quran, namun perjalannya kandas.
Usut punya usut, keluarga inti kemudian menanyai perihal ketidak cocokan yanh terjadi antara keduanya. Pada sisi sang ustadz tersebut tak ada alasan menolak taaruf, ia bahkam bersedia mendampingi si wanita.

Saat sisi wanita tersebut ditanyai, ada keragu raguan dirinya untuk menerima sang ustadz. Lantaran sang ustadz tersebut hanya pendidikan S1. Pekerjaannya hanya menghafal quran dan berceramah menurutnya. Sedangkan pendidikan sang wanita S2 di UI. Pekerjaannya ialah manager keuangan Bank Ternama di Jakarta. Atas perbedaan profesi dan pendidikan ini akhirnya sang wanita memutuskan untuk tidak meneruskan hubungan taaruf dengan si ustadz.

Pak Rudi menyayangkan sekali sikap dan pemikiran saudarinya tersebut. Sudah diperkenalkan dengan orang baik baik tapi pihak keluarga dan perempuan mengejar sesuatu yang bernilai duniawi. Rumitnya jika seorang wanita sudah berpendidikan tinggi, mapan profesinya cenderung memilih milih suami.
Masih ingatkah wanita diluaran sana yang telah mengejar kuliah S2 setingi tingginya, isudah menjadi wanita karir yang sukses hingga lupa menikah? Sibuk mencari calon suami yang sepadan. Lalu saat kesempatan Allah tiba, datang pria baik baik lantas ditolaknya lantaran alasan ini dan itu. Lantaran kurang ini dan itu. Akhirnya kebanyakan daripada mereka berujung menikah dengan sebarang orang. Yang sama mencari alasan ini dan itu, yang sibuk kurang ini kurang itu. Lantaran habis usia mudanya, naudzubillah terpaksa mencari siapa deh yang mau, meski pengangguran atau bahkan duda kaya anak lima, atau tidak menikah sama sekali.  (naudzubillah),

Maknai pernikahan bukan hanya sekedar menyambung keturunan. Akan tetapi ibadah. Pabila hal itu di pegang kuat kuat maka kebahagiaan dunia akhirat balasannya. Mustahil pernikahan tanpa diberi ujian kekurangan makanan, minuman, harta benda. Bukankah Allah sendiri yanf berkata bahwa engkau akan diuji oleh kekurangan2. Akankah kita masih tetap menjadi hamba yang syukur.

Yogyakarta 13 Februari 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar