Bungkus dan Isinya
Penilainan
merupakan suatu proses penelaahan terhadap suatu objek atau sesuatu
secara lengkap. Penilaian biasanya diawal dengan melihat pada suatu
objek tersebut. Sebelum benar benar menelaah sesuatu yang dituju, tentu
tampilan yang terlihat terlebih dahulu. Tampilan sering kali mengecoh
kita saat menilai sesuatu. Tampilan yang
menarik akan memikat juga memukau kesan yang pertama. Lain halnya
dengan tampilan yang buruk memiliki nilai yang sebaliknya. Namun
pernakah anda menelaah sesuatu yang buruk namun nilainya baik atau
sebaliknya?. Kembali ke makna sebuah penilaian tersebut ialah suatu
proses menelaah, artinya bukan hanya melalui visual dengan melihat
sesuatu tersebut namun juga secara keseluruhan nilai itu dicari dari
segi kuantitas dan kualitasnya. Menilai sesuatu hendaknya benar-benar
menelaah secara terperinci. Bagaimana cara anda menilai sesuatu?
Pernahkan anda menilai atau dinilai seseorang?
Bicara
tentang penilaian saya punya pengalaman pribadi yang mungkin
pengalaman ini sudah saya rasakan sejak duduk di bangku Sekolah
Menengah Pertama(SMP). Tepatnya kejadian itu terjadi sekitar 9 tahun
yang lalu, aku duduk di bangku kelas VII sebagai siswa baru. Saat
penerimaan siswa baru tentu antara siswa satu dengan siswa yang lain
ingin saling mengenal. Perkenalan tentu diawali oleh kesan pertama.
Entah mengapa kesan pertama itu menjadi adat kebiasaan untuk melebelkan
seseorang sebelum benar benar mengenal pribadinya. Kesan pertama
inilah masalahku bemula dan terus berlangsung hingga saat ini, yaitu “wajahku”. Tidak tepat jika ini dikatakan sebuah masalah karena ini berkenaan dengan fitrah Allah yang diberikan kepada saya . Ada apa dengan wajahku ??? hee apa ada yang salah?
Menurutku tidak ada yang salah dengan wajahku. Semua tercipta karena
anugrah Allah. Saya bersyukur dengan segala nikmat-Nya dan nikmat yang
mana lagi yang tidak kusyukuri serta bagaimana mungkin aku
mengingkarinya . Namun apa yang menjadi pikiran dan argument ini
terkadang tak sejalan dengan sebagian orang yang belum mengenalku dengan
baik. Wajar … setiap orang memiliki hak untuk menilai. Awal dari kesan
pertama inilah kemudian muncul statement “judes”, kata salah satu teman bangku SMPku.
Nah…….”masalahnya sekarang pada kesan pertama, kenapa acap kali saya dibilang judes?”apa yang salah dengan wajah saya?.
Sedih…………….namun bagimana lagi ini anugrah dari Allah mustahil
dirubah . Menaggapi itu semua spontan saja dengan senyuman berkata “Astagfirullah wal-Hamdulillah ” Dia menyela: pangangkahipun pripun? ?
(lu ndak salah begitu bahasanya, karena teman saya kebetulan perempuan
berasal dari Solo, Jawa Tengah saya tulis percakapannya sesuai yang ia
katakan menurut bahasanya)
Saya jawab: Astagfirullah banyak
yang memperhatikan saya ya Allah termasuk kamu hee wal hamdulillah
artinya kamu tertarik mengenal kepribadiaan saya Gubrraaaak … gak
nyambung memang heee,,. Mengapa saya katakan demikian..karena itulah
rahasia teman-teman saya ingin mengenal saya . Saya selalu membiarkan
penialaian ini sampai mereka mengenal betul pribadi saya seperti apa.
Heee anggap saja itu hanya masalah bingkisan belum tentu isinya :)
Nasehat untuk diri sendiri : Belajar menilai isi sebelum melihat bungkusnya, , ,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar