Sabtu, 14 Mei 2016

Bungkus dan Isinya

Bungkus dan Isinya

Penilainan merupakan suatu proses penelaahan terhadap suatu objek atau sesuatu secara lengkap. Penilaian biasanya diawal dengan melihat pada suatu objek tersebut. Sebelum benar benar menelaah sesuatu yang dituju, tentu tampilan yang terlihat terlebih dahulu. Tampilan sering kali mengecoh kita saat menilai sesuatu. Tampilan yang menarik akan memikat juga memukau kesan yang pertama. Lain halnya dengan tampilan yang buruk memiliki nilai yang sebaliknya. Namun pernakah anda menelaah sesuatu yang buruk namun nilainya baik atau sebaliknya?. Kembali ke makna sebuah penilaian tersebut ialah suatu proses menelaah, artinya bukan hanya melalui visual dengan melihat sesuatu tersebut namun juga secara keseluruhan nilai itu dicari dari segi kuantitas dan kualitasnya. Menilai sesuatu hendaknya benar-benar menelaah secara terperinci. Bagaimana cara anda menilai sesuatu? Pernahkan anda menilai atau dinilai seseorang?

Bicara tentang penilaian saya punya pengalaman pribadi yang mungkin pengalaman ini sudah saya rasakan sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama(SMP). Tepatnya kejadian itu terjadi sekitar 9 tahun yang lalu, aku duduk di bangku kelas VII sebagai siswa baru. Saat penerimaan siswa baru tentu antara siswa satu dengan siswa yang lain ingin saling mengenal. Perkenalan tentu diawali oleh kesan pertama. Entah mengapa kesan pertama itu menjadi adat kebiasaan untuk melebelkan seseorang sebelum benar benar mengenal pribadinya. Kesan pertama inilah masalahku bemula dan terus berlangsung hingga saat ini, yaitu “wajahku”. Tidak tepat jika ini dikatakan sebuah masalah karena ini berkenaan dengan fitrah Allah yang diberikan kepada saya . Ada apa dengan wajahku ??? hee apa ada yang salah? Menurutku tidak ada yang salah dengan wajahku. Semua tercipta karena anugrah Allah. Saya bersyukur dengan segala nikmat-Nya dan nikmat yang mana lagi yang tidak kusyukuri serta bagaimana mungkin aku mengingkarinya . Namun apa yang menjadi pikiran dan argument ini terkadang tak sejalan dengan sebagian orang yang belum mengenalku dengan baik. Wajar … setiap orang memiliki hak untuk menilai. Awal dari kesan pertama inilah kemudian muncul statement “judes”, kata salah satu teman bangku SMPku.
Nah…….”masalahnya sekarang pada kesan pertama, kenapa acap kali saya dibilang judes?”apa yang salah dengan wajah saya?. Sedih…………….namun bagimana lagi ini anugrah dari Allah mustahil dirubah . Menaggapi itu semua spontan saja dengan senyuman berkata “Astagfirullah wal-Hamdulillah ” Dia menyela: pangangkahipun pripun? ? (lu ndak salah begitu bahasanya, karena teman saya kebetulan perempuan berasal dari Solo, Jawa Tengah saya tulis percakapannya sesuai yang ia katakan menurut bahasanya)
Saya jawab: Astagfirullah banyak yang memperhatikan saya ya Allah termasuk kamu hee wal hamdulillah artinya kamu tertarik mengenal kepribadiaan saya Gubrraaaak … gak nyambung memang heee,,. Mengapa saya katakan demikian..karena itulah rahasia teman-teman saya ingin mengenal saya . Saya selalu membiarkan penialaian ini sampai mereka mengenal betul pribadi saya seperti apa. Heee anggap saja itu hanya masalah bingkisan belum tentu isinya :)
Nasehat untuk diri sendiri : Belajar menilai isi sebelum melihat bungkusnya, , ,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar