Melejitkan Diri Dengan Menulis
Kemarin ada adik angkatan BKI yang bertanya kepada saya seperti ini: Saya pengen nulis tapi takut kalau tulisan-tulisan saya itu dibilang sok tahu, atau apalah gitu? Piyeee kak?
Sambil tersenyum saya jawab, Kita ini masih belajar. Belum juga menulis apalagi jadi pengarang buku, tapi sudah takut dikritik. Masalah agar tidak dianggap sok tahu, kita boleh memilih tema tulisan yang ringan-ringan saja, jangan tulisan yang temanya berat. Misalnya, sharing pengalaman, peristiwa atau event seharian yang kamu lewati atau diskusi saat ngobrol bareng sama temen-teman itu. Justru bisa jadi bahan tulisan yang menginspirasi. Mau menulis itu tidak wajib kok nulis tentang tema ekonomi dan bisnis, agama, pendidikan, kriminalitas, apalagi masalah hukum sampi politik. Kan masih belajar?
Jangan salah lhoo Bunda Asma Nadia penulis wanita Indonesia yang hebat saat seminar di UGM, menuturkan beliau berangkat menulis dari pengalaman pribadinya bersama sahabat-sahabatnya sehingga kisahnya kongruen, lebih hidup dan inspiratif.
Saya mengawali tulisan dengan hobby menulis perjalanan hidup saya. Yaaa mungkin orang akan berkata kurang menarik, namun bagi saya itulah latihan bagi pemula seperti saya meski sesederhana ini, cuma begitu. Saya menulis ya masih seperti ini, belum mampu menggunakan kaedah tulis yang benar dan baik. Tak jarang bahkan sering saya blepotan nulisnya malah terkadang sampai ngak nyambung. Kapan saya mau menulis yaa menulis saja.

Catatan Ukhty Dewi
Menulis itu bukanlah persoalan saya tahu, kamu tidak tahu. Maka nih baca tulisanku. Biar kamu tahu. Bukan seperti itu. Namun menulis adalah soal saya bisanya menulis ya seperti ini, sesederhana ini, cuma begini. Saat kita dianggap sok tahu, maka seyogyanya kita mohon perbaikan. Ilmu-mu jauh lebih banyak bukan? Minta ishlah mohon perbaikan. Tolonglah dikoreksi. Mohon ingatkan jika salah. Penulis yang benar-benar mencintai aktivitas tulis menulis yang sesungguhnya lebih menyukai perbaikan bukan keangkuhan dan merasa bahwa tulisannnya sudah benar-benar baik. Dan biasanya mereka (pera penulis) punya cara yang indah dalam mengkoreksi, tanpa stereotip terlebih dahulu.
Lagi-lagi belum juga menulis. Kita tidak perlu terlalu pusing dulu memikirkan kata-kata yang akan menjudge kita sok tahu. Bisa jadi stigma kita yang salah. Bukankan penulis hebat sekalipun selalu berkata mereka selalu belajar menulis dan terus belajar menulis? Belum ada lhoo penulis sejati yang membully penulis pemula. Selama saya kenal penulis-penulis hebat dari kalangan akademisi maupun lbukan entah di dunia nyata maupun lewat dunia maya (social media) mereka mendukung (supporting) dengan niat dan kemauan menulis para penulis pemula. Yang penting mau nulis dulu, mau bagaimanapun hasil tulisannya, yakin deh mereka sangat mengapresiasi usaha dan karya kita. Wallahu a’lam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar